Jadi Sorotan, BPOM Dituntut Objektif Soal Uji Vaksin

Vaksin influenza (ANTARA/Shutterstock)

Acuantoday.com, Jakarta―Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dituntut profesional dan objektif dalam menilai hasil uji klinis fase ketiga vaksin Covid-19 dari Sinovac. 

“Jangan sampai karena tekanan pemerintah atau kejar tayang maka proses perizinan digampangkan atau keluar dari standar proses yang ada,” kata Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto saat dihubungi wartawan, Senin (14/12).

Vaksin Sinovac yang masih dirampungkan proses pengujiannya di Bio Farma, bekerja sama dengan FK Universitas Padjadjaran, tegas dia, perlu diperiksa secara hati-hati, dan sesuai ketentuan sebelum diberikan izin edar.

Vaksin Covid-19 dari Sinovac sudah diimpor dari China dan disimpan di gudang Bio Farma di Bandung sebanyak 1.2 juta dosis. Selanjutnya, akan datang lagi sebanyak 1.8 juta dosis lagi bulan Januari 2021 mendatang.

Mulyanto menekankan, BPOM harus melakukan review terhadap semua prosedur penelitian dan uji klinis tahap ketiga vaksin ini, termasuk tingkat validitasnya. Selain itu BPOM juga perlu membuka informasi prosedur perizinan tersebut kepada masyarakat ilmiah, agar dapat diawasi bersama-sama. 

Standar ilmiah, tambah dia,  harus menjadi batu uji empiris BPOM, sehingga setiap prosedur pengujian dapat dipertanggungjawabkan. 

Dengan demikian, lanjut dia, masyarakat jadi lebih yakin bahwa vaksin Covid-19 buatan Sinovac imunogenitas efektif dan aman bagi penggunanya.

“Saya yakin ukuran-ukuran ilmiah itu sudah baku. Indikatornya jelas. Sehingga selama hasil uji klinis tahap ketiga ini terbuka bagi masyarakat ilmiah maka tipu-tipu ilmiah, yang akan merugikan masyarakat, dapat dihindari,” sambungnya.

IDI dalam rekomendasinya kepada Menkes juga menyatakan hal yang sama, bahwa vaksin yang digunakan harus terbukti efektivitas, imunogenitas, dan keamanannya. 

“Hal itu dibuktikan dengan telah melewati uji klinis fase tiga yang sudah dipublikasikan,” akuinya.

Mulyanto menambahkan, sekarang ini semua mata menyorot ke BPOM. Jangan sampai sebagai Badan Pengawas yang independen dan obyektif BPOM dapat disetir pihak tertentu. 

“Ini tidak kita inginkan bersama. Kredibilitas BPOM akan dipertaruhkan. Kalau demikian akhirnya yang dirugikan uang Negara dan rakyat juga,” jelasnya. 

Untuk diketahui sebanyak 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 dari China telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta (6/12). Vaksin dikemas dalam 33 paket dengan berat bruto 9.229 kilogram. Jumlah vaksin yang diimpor sebanyak 1,2 juta vial dosis vaksin dan 568 vial  dosis vaksin untuk contoh pengujian.

Vaksin tersebut diimpor dari Sinovac Life Science Corporate Ltd, Cina, dalam bentuk vero cell dengan nama penerima PT Bio Farma (Persero). Direktorat Jenderal Bea Cukai telah melakukan dukungan keseluruhan untuk pelayanan impor vaksin sesuai PMK 188.  

Sebanyak 3 juta vaksin telah dibuat komitmennya oleh pemerintah dengan uang muka 80 persen telah dibayarkan. Menyusul akan dikirimkan sisanya sebanyak 1,8 juta dosis. (rht)

Comments

comments