Jelang Natal Polisi Sterilisasi Gereja

Tim gabungan dari Kepolisian Resort (Polres) Bantul serta unit penjinak bom (Jinbom) Gegana Polda DIY melakukan sterilisasi di salah satu dari empat gereja yang ada di Bantul, Rabu (23/12/2020). Sterilisasi dilakukan untuk memberi rasa nyaman dan aman bagi umat Kristiani yang akan melakukan ibadah Natal yang jatuh pada 25 Desember.

Acuantoday.com, Yogyakarta- Menjelang perayaan Natal, kepolisian melakukan sterilisasi di sejumlah gereja. Sterilisasi untuk memastikan keamanan tempat ibadah agar berjalan lancar dan aman.

Pada Rabu (23/12/2020) tim yang terdiri dari Kepolisian Resort (Polres) Bantul bersama dengan unit penjinak bom (Jinbom) Gegana Polda DIY menggelar sterilisasi di empat gereja yang ada di Bantul.

Kepala Bagian Operasional (Kabagops) Polres Bantul AKP Gunarto mengatakan, empat gereja yang disterilisasi adalah Gereja Santo Paulus, Gereja Santo Yakobus, Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus dan Gereja Salip Suci. Di empat gereja tersebut, petugas tidak hanya mengecek bagian dalam gereja, namun juga bagian luar gereja untuk memastikan tidak ada benda berbahaya yang akan mengancam keberlangsungan ibadah Natal.

“Selain melakukan sterilisasi, untuk memastikan dan menjamin keamanan jemaat, kami juga menurunkan sebanyak 1.250 personel yang disebar di berbagai lokasi saat berlangsungnya ibadah Natal,” kata Gunarto kepada wartawan disela-sela sterilisasi di Gereja Santo Yakobus, Klodran, Bantul.

Sementara itu, Ketua Dewan Paroki Gereja HKTY Ganjuran Bantul, Ari Setiawan mengatakan, pada perayaan misa Natal kali ini pihaknya tidak hanya menyiapkan petugas mengukur suhu tubuh dan menempatkan wastafel, namun juga menerapkan pembatasan jumlah jemaat yang hadir.

Jika sebelum pandemi, ada 1.200 jemaat hadir, maka kali ini pihaknya akan membatasi sebanyak 600 jemaat. “Itu pun harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Yakni dicek suhu tubuh, cuci tangan pada tempat yang disediakan dan juga mengenakan masker,” katanya.

Oleh karena itu, untuk mewadahi keinginan umat merayakan misa Natal, dia menyatakan, frekuensi misa ditambah. Jika sebelum pandemi, ada sebanyak empat kali misa, maka kali ini ditambah menjadi tujuh kali.

“Nanti pas tanggal 24 ada tiga kali. Sisanya empat kali saat tanggal 25,” lanjutnya.

Pengetatan lainnya juga dilakukan oleh pihak gereja. Menurut Ari, agar pengawasan dan penerapan protokol kesehatan bisa dimaksimalkan, maka pihaknya membagi umat didasarkan wilayah. Di mana, tiap kali misa, hanya akan ada umat dari tiga atau empat wilayah saja.

“Mereka juga kami bekali id-card sesuai dengan lingkungannya,” paparnya.

Untuk umat dari luar kota yang pulang kampung dan hendak mengikuti Misa, pihak gereja mewajibkan mereka menyertakan hasil rapid tes atau uji swab. “Selain harus memakai masker, hand sanitizer, mencuci tangan dan tetap menjaga jarak,” katanya. (Chaidir)

Comments

comments