Jelang Olimpiade Tokyo, Atlet Brazil Jalani Pelatihan Anti-rasisme

lustrasi - Penyerang tim nasional Brazil Roberto Firmino (kedua kanan) melakukan selebrasi bersama rekan-rekannya seusai mencetak gol keduanya ke gawang Bolivia dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2022 zona CONMEBOL di Stadion Arena Corinthians, Sao Paulo, Brazil, Jumat (9/10/2020). (ANTARA/REUTERS/POOL/Buda Mendes)

Acuantoday.com, Jakarta –  Atlet Brazil yang mewakili negaranya di Olimpiade akan menjalani pelatihan anti-rasisme,  untuk mengatasi masalah yang mangakar di dunia olahraga.

Komite Olimpiade Brazil memiliki program kursus online 30 jam pekan ini, yang wajib diikuti 650 atlet, pelatih dan tim pendukun yang akan berangkat ke Olimpiade Tokyo pada Juli hingga Agustus mendatang

“Tujuan dari kursus ini adalah untuk memberikan informasi, pengetahuan dan juga membuka diskusi luas tentang rasisme dalam olahraga,” kata sekjen panitia, Rogerio Sampaio, dikutip dari AFP, Jumat (9/4)

“Rasisme bersifat struktural… tapi kami yakin dunia olahraga tidak dapat lagi mentolerirnya,” dia menambahkan.

Sekitar 55 persen dari populasi Brazil merupakan kulit hitam atau campuran, negara yang menghapus perbudakan pada 1888.

Ketidaksetaraan rasial dapat menjadi subjek yang traumatis dan penuh beban di negara berpenduduk 212 juta orang, di mana kulit putih berpenghasilan hampir 75 persen lebih banyak daripada rata-rata orang kulit berwarna.

Kursus ini akan memberikan gambaran umum tentang sejarah ketidaksetaraan rasial di Brazil, membahas seperti apa rasisme dalam olahraga dan mengajari anggota delegasi Olimpiade apa saja yang dapat mereka lakukan jika mereka menyaksikan atau menjadi korbannya.

Sampaio mengatakan Brazil adalah komite Olimpiade pertama di dunia yang meluncurkan inisiatif seperti itu.

Dia menyebutnya sebagai “langkah pertama” untuk mengatasi masalah.

“Kami tahu itu tidak cukup, tapi ini penting,” kata Sampaio.

Insiden rasis dalam olahraga terus terjadi, meskipun ada dampak dari gerakan seperti “Black Lives Matter” di Amerika Serikat dan aktivis atlet, seperti Naomi Osaka dan LeBron James.

Dugaan rasisme terjadi dalam laga Cadis vs Valencia, Minggu (4/4). Pemain klub Spanyol Valencia Mouctar Diakhaby mengaku menerima ejekan rasis dari lawannya, Juan Cala.

Sementara itu, klub Prancis, Nantes FC, Selasa (6/4), mengatakan bahwa gelandang Imran Louza telah menerima ancaman pembunuhan dan serangan rasis di media sosial setelah pertandingan terakhir klub tersebut. (Bram/Antara)

Comments

comments