Kabar Baik! Program Rumah Deret Kampung Nelayan Tambakrejo Semarang Rampung

Rumah Deret Kampung Nelayan Tambakrejo, Semarang.(Foto : Alvin/Acuantoday.com)

Acuantoday.com, Semarang– Proyek pembangunan rumah deret kampung nelayan di RT 05/ RW 06, Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Semarang saat ini telah rampung.

Sebelumnya, pembangunan rumah deret tersebut diproyeksikan untuk tempat tinggal 90 keluarga dari masyarakat yang terdampak penertiban proyek normalisasi Banjirkanal Timur beberapa waktu lalu.

Rumah deret tersebut bertipe 24 yang dilengkapi bioseptik pengelolaan air kotor, jaringan listrik dan PDAM. Selain itu, Pemerintah Kota Semarang juga berencana melengkapi dengan fasilitas umum seperti taman bermain anak.

Proyek ini juga telah diserahterimakan dari pengembang kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) sebagai wakil Pemerintah Kota Semarang.

Nantinya para nelayan di wilayah tersebut diperkirakan telah bisa boyongan ke rumah deret pada Januari 2021.

Kepala Disperkim Kota Semarang, Ali mengatakan pihaknya telah menggelar rapat bersama dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang untuk membahas sistem penempatan hunian tersebut.

Pasalnya, lahan yang digunakan untuk rumah deret kampung nelayan merupakan tanah milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana.

Sedangkan Pemkot Semarang melakukan sewa tanah dalam pembangunan rumah deret tersebut.

”Kami prioritaskan rumah deret hunian sementara itu untuk ditempati bagi 97 keluarga terdampak proyek normalisasi Banjirkanal Timur. Hanya saja, masih belum diputuskan apakah akan diberlakukan sistem sewa layaknya Rusunawa atau seperti apa nantinya. Sistem sewa tanah kepada BBWS diberlakukan selama 5 tahun untuk tahap pertama, dan diberikan kesempatan perpanjangan sekali,” beber Ali, Rabu (30/12).

Ali juga menuturkan bahwa sebetulnya ada 147 keluarga yang tergusur akibat proyek normalisasi Banjirkanal Timur. Namun hanya ada 50 keluarga yang bersedia untuk dipindah di Rusunawa Kudu.

Sedangkan sisanya memilih untuk menempati bedeng-bedeng yang berada di bawah jembatan laying di Kampung Tambakrejo.

”Dari jumlah awal 97 keluarga tersebut, ternyata sekarang hanya tersisa 57 keluarga yang masih tinggal di bedeng-bedeng itu. Sementara 40 keluarga lainnya telah pindah ke berbagai tempat dan tidak lagi berada di sana. Hanya saja, kami sudah memiliki data siapa saja yang termasuk dalam 97 keluarga tersebut,” tandas Ali.

Terakhir, Ali berharap para nelayan bisa nyaman menempati hunian sementara yang mengabiskan anggaran Rp 8,3 miliar dari APBD tahun 2020.

”Kami tetap berkeinginan agar nantinya warga menempati hunian sementara itu dengan rasa nyaman,” pungkasnya.(Alvin)

Comments

comments