Kasus Kebakaran Kejagung Siap Masuki Persidangan

Ilustrasi - Penetapan Tersangka kebakaran. Kabareskrim menetapkan delapan tersangka atas kasus kebakaran gedung utama kejaksaan agung (kejagung)./Foto : Antara

Acuantoday.com, Jakarta- Bareskrim Polri mulai melimpahkan berkas perkara sejumlah tersangka kasus kebakaran Kejaksaan Agung ke Jaksa Penuntut Umum, Kamis (12/11). Dengan begitu, secara bertahap kedelapan tersangka bakal segera menjalani sidang.

Dalam tahap I ini, penyidik merampungkan berkas para tersangka yang termasuk kelompok pekerja, mulai dari kuli bangunan hingga mandor.
“Pengiriman berkas Perkara tahap I kelompok pekerja,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono, saat jumpa pers di Bareskrim Polri, Kamis (12/11).

Diketahui, polisi telah menetapkan orang berstatus kuli bangunan masing-masing berinisial T, H, S, K, IS dan seorang mandor berinsial UAM sebagai tersangka.

Puntung rokok kuli bangunan disebut jadi pemantik kebakaran, lantas mereka ditetapkan tersangka. Sementara, sang mandor dianggap lalai mengawasi kerja anak buahnya.

Agenda lain penyidik hari ini, dikatakan Awi, adalah kembali memeriksa lima orang saksi hari ini. Mereka terdiri atas ASN Kejagung hingga ahli arsitektur.

“Tim penyidik gabungan memeriksa saksi-saksi. ASN Kejagung (Karo Perencanaan Tahun 2019). Ahli dari IAI (Ikatan Arsitek Indonesia). MAI (laki-Laki peminjam bendera PT APM), AR (pengawas cleaning service), HS (pengawas cleaning service),” ujarnya.

Kendati begitu, Awi tak membeberkan apa muatan pemeriksaan dan kapasitas masing-masing saksi yang dimintai keterangannya.

Namun yang jelas, pemeriksaan lanjutan saksi yang dimulai pasca penetapan tersangka sejak 23 Oktober lalu, dalam rangka membuka kemungkinan adanya tersangka lain, di luar 8 tersangka.

Selain 6 pekerja, tersangka lain yang dijerat polisi ialah Pejabat Pembuat Kebijakan (PPK) Kejagung berinisial NH dan Direktur Utama PT APM berinisial R jadi tersangka kasus yang menghanguskan gedung Korps Adhyaksa pada 22 Agustus lalu itu.

NH dinilai lalai dalam pengadaan cairan pembersih Top Cleaner, karena mengandung zat mudah terbakar sehingga menyebabkan kobaran api merembet cepat ke seluruh gedung. Cairan itu sendiri dipasok R, dan telah digunakan selama dua tahun oleh Kejagung.

Akibat perbuatannya, kedelapan tersangka dijerat Pasal 188 KUHP juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP, dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun.(rwo)

Comments

comments