Kasus Kematian Anak Akibat Covid Tinggi, PTM Dinilai Belum Perlu

KPAI pantau sekolah-sekolah yang gelar pembelajaran tatap muka di 17 Kabupaten pada 11 provinsi---foto KPAI

Acuantoday.com, Jakarta- Tren kasus positif Covid-19 terhadap anak-anak akhir-akhir ini terus meningkat. Berdasarkan data dari dokter spesialis anak Rumah Sakit Yarsi, dr. Elsye Souvrianti mengukapkan jumlah kasus positif Covid-19 pada anak per 24 Maret 2021 cercatat sebesar 12,1 persen dari total kasus nasional. Masih menurut dr. Elsye, dari jumlah itu 2,8 persen adalah anak kelompok usia 0-5 tahun dan 9,3 persen bersusia 6-18 tahun.

Tidak hanya itu, kasus kematian karena Covid-19 terhadap anak usia 0-5 tahun dan 6-18 tahun tercatat sebanyak 0,6 persen. Dari data ini dr. Elsye menyarankan agar anak-anak lebih baik tetap berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah karena ancaman Covid-19 terhadap anak-anak masih tinggi.

Menanggapi iyu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mempertimbangkan krmbali rencana membuka sekolah di bulan Juli atau Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Pasalnya, trend positif Covid-19 terhadap anak-anak masih tinggi.

“KPAI juga sudah mengatakan kalau mau membuka sekolah, kami sudah rapat kok dengan Gubernur DKI, juga rapat dengan Kemendikbud dan pada saat rapat itu kami juga sudah menyampaikan bahwa ketika buka sekolah juga harus diperhitungkan kasus di wilayah itu,” kata Retno dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (26/3/2021).

Retno juga mengakui, angka kematian yang dibeberkan oleh dr. Elsye Souvrianti sejalan dengan yang disampaikan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), bahwa Indonesia saat ini menempati urutan satu untuk kasus kematian anak akibat Covid-19 di Asia Pasifik.

“Jadi kalau sekarang saja angkannya sudah setinggi itu, dengan angka kematian sebenarnya IDI sudah mengatakan bahwa angka kematian anak yang terkena covid-19 di Indonesia sudah angkanya tertinggi se Asia Pasifik,” ujarnya.

Untuk itu, Retno menyarankan Pemerintah tidak hanya berpatokan pada vaksinasi kepada guru dan tenaga pendidik di Indonesia. Vaksinasi terhadap guru dan tenaga pendidik bukan jaminan para siswa-siswi akan terhindar dari Covid-19, karena para siswa sendiri belum di vaksin lantaran belum adanya vaksin buat anak-anak.

“Nah, ketika buka sekolah maka tidak bisa hanya memperhitungkan seolah-olah guru divaksin sudah aman, kan gak, karena guru di vaksin dan murid belum di vaksin kan. Belum ada vaksin anak, jadi kalau buka sekolah tentu kami lebih kepada kasusnya sudah rendah, guru memang sudah divaksin tapi penyiapan sekolah juga penting, infrastrukturnya, protokol kesehatannya, itu yang kita sampaikan pada Pemerintah dan bulan Juli mau di buka ini ada mudik,” paparnya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo menjelaskan, dari data yang dihimpun oleh pihaknya terkait dengan partisipasi guru dan tenaga pendidik untuk mengikuti vaksinasi belum 100 persen, karena baru 91,73 persen guru dan tenaga pendidik yang sepakat untuk di vaksin.

Artinya, ada sekitar 8,27 persen guru dan tenaga guru yang menolak untuk mengikuti vaksinasi dengan alasan khawatir efek samping dan ragu pada kualitas vaksin yang dugunakan di Indonesia.(rht)

Comments

comments