Kebakaran Kejagung: Kobaran Api Dipicu Penggunaan Cairan Pembersih Ilegal

Gedung Kejaksaan Agung RI di Jalan Sultan Hasanudin Dalam Nomor 1, Kelurahan Kramat Pela, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, terbakar pada Sabtu (22/8/2020). Kebakaran berlangsung selama hampir 11 jam dan baru berhasil dipadamkan pada Minggu (23/8/2020) sekitar pukul 06.28 WIB./Foto:Acuantoday.com

Acuantoday.com, Jakarta- Selain karena dipicu puntung rokok, kebakaran dahysat gedung Kejaksaan Agung pada 22 Agustus lalu, juga ditengarai oleh cairan pembersih lantai yang mengandung zat mudah terbakar.

Itulah mengapa awal kobaran api di lantai 6 ruang Biro Kepegawaian, bisa begitu cepat menjalar ke seluruh bagian gedung.

Dari hasil penyidikan yang melibatkan tim Puslabfor dan ahli kebakaran UI, didapati fakta bahwa Kejagung sudah dua tahun menggunakan cairan pembersih mudah terbakar itu, dan parahnya hal demikian melanggar aturan, karena produk dan bahan kandungannya tidak memiliki izin edar alias ilegal.

Cairan pembersih yang dimaksud itu adalah minyak lobi bermerek TOP Cleaner yang diproduksi oleh PT APM. Direktur utama APM berinsial R, lantas dijadikan tersangka oleh polisi.

“Ditemukan adanya fraksi solar, dan tiner di setiap lantai, dari situlah kita bisa menyimpulkan bahwa yang mempercepat atau akseleran terjadinya penjalaran api adalah adanya penggunaan minya lobi atau alat pembersih lantai yang bermerek TOP Cleaner,” ujar Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambo dalam jumpa pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (23/10/2020).

Beredarnya dan digunakannya cairan pembersih itu selama dua tahun di gedung Kejagung, bukan tanpa penyebab. Dikatakan Sambo, seorang pejabat Kejagung eselon IV berinisial NH mengetahui bahwa bahan-bahan yang digunakan mengandung senyawa berbahaya. Kendati begitu, yang bersangkutan tetap saja menyetujui penggunaan TOP Cleaner hingga akhirnya menimbulkan kebakaran.

Alhasil, NH pun ditetapkan menjadi tersangka dengan sangkaan kealfaan, kendati sudah tahu dampak yang bakal ditimbulkan.

“Harusnya dia tahu. Maka harusnya jangan digunakan, tapi dia tetap gunakan,” kata Sambo.

Saat ditanya soal motif mengapa pejabat Kejagung itu masih ngotot menyetujui penggunaaan bahan berbahaya, Sambo tak bisa berkomentar lebih banyak. Karena pemeriksaan terhadap tersangka masih berjalan.

Sebagaimana berita sebelumnya, ada 8 tersangka yang ditetapkan atas insiden kebakaran yang menimbukan kerugian Rp1,12 triliun ini. Selain 2 tersangka di atas, ada 6 tersangka lain berstatus pekerja bangunan yang pada hari kejadian tengah merenovasi ruangan di lantai 6.

Atas perbuatannya, Sambo menegaskan, semua tersangka terjerat hukum karena faktor kelalaiannya, dan bukan ditengarai kesengajaan. Mereka dikenakan Pasal 188 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.(rwo)

Comments

comments