Kebakaran Terjadi karena Konstruksi Gedung Kejagung Gunakan Material Mudah Terbakar

Gedung Kejaksaan Agung RI di Jalan Sultan Hasanudin Dalam Nomor 1, Kelurahan Kramat Pela, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, terbakar pada Sabtu (22/8/2020). Kebakaran berlangsung selama hampir 11 jam dan baru berhasil dipadamkan pada Minggu (23/8/2020) sekitar pukul 06.28 WIB./Foto:Acuantoday.com

Acuantoday.com, Jakarta- Bareskrim Polri mengungkapkan menjalarnya api begitu cepat ke seluruh gedung Kejaksaan Agung, bukan saja karena cairan pembersih berbahan zat gampang terbakar, melainkan juga dipicu akseleran lain, yakni aluminium composite panel (ACP) yang menyelimuti gedung.

Hal ini terungkap, berdasar keterangan ahli kebakaran Universitas Indonesia (UI), Yulianto, yang menerangkan pada umumnya tipe ACP ada yang terbuat dari bahan tidak mudah terbakar dan mudah terbakar.

Namun dalam kasus kebakaran ini, tipe ACP yang dipakai terbukti gampang terbakar. Temuan itu, setelah dilakukan percobaan dari sampel ACP yang tertempel di Gedung Kejagung.

Ia menggunakan alat las untuk menguji daya panas ACP yang temperaturnya diatur mirip jilatan api saat terbakarnya gedung Korps Adhyaksa tersebut

“Alat las ini kita upayakan temperaturnya menyerupai temperatur jelatan api yang ada di Gedung Kejaksaan ketika terbakar yaitu dengan cara menghentikan penyaluran oksigen,” kata Yulianto saat jumpa pers di Bareskrim Polri, Jumat (13/11).

Hasilnya, percobaan menunjukkan terbentuknya nyala api difusi berwarna oranye agak kekuningan. Setelahnya, material yang gosong terbakar membentuk tetesan, sebelum akhirnya membakar kertas yang diletakkan di bawah bahan ACP.

“Jadi kita bisa melihat tadi salah satu cirinya nyalanya berwarna oranye kekuningan. Kita biarkan selama beberapa lama kemudian mulai jadi penyalaan dari inti isolator tersebut. Jadi hasil pengujian ini juga tampak terjadi tetesan material isolasi yang terbakar dan bahkan kertas yang kami letakkan di bagian bawah turut terbakar,” paparnya.

Dengan kata lain, percobaan ini mencoba mengilustrasikan bahwa terlihat adanya perambatan pada ACP yang dipasang di atas gedung. Kemudian, material berguguran akibat kebakaran sehingga menjalar cepat ke bagian bawah gedung.

“Di sini terjadi perambatan di bagian atas sementara banyak sekali material yang menetes dan gugur. Sehingga kita bisa melihat dan muncul banyak kobaran api di bagian bawah. Inilah yang kemudian menyebabkan di bagian bawah ini pula terjadi temperatur yang relatif tinggi. Apabila ada objek di bagian bawah terkena tetesan nanti maka objek tersebut turut terbakar,” tuturnya.

Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambodo, mengatakan, dua tersangka berinisial J dan IS merupakan pihak di balik pengadaan ACP di Kejagung.

Tersangka IS, yang diketahui sebagai mantan PNS Kejagung ini berperan dalam pemilihan konsultan perencana pembangunan gedung. “IS dalam memilih konsultan perencana tidak sesuai dengan ketentuan, memilih konsultan perencana yang tidak berpengalaman, kemudian tidak melakukan pengecekan bahan bahan yang akan digunakan, khususnya ACP ini,” ungkap Sambo dalam kesempatan sama.

Setali tiga uang, tersangka J selaku konsultan dianggap juga tidak memiliki pengetahuan maupun pengalaman terkait penggunaan bahan ACP dalam pembangunan gedung.

“Konsultan perencana yang ditunjuk tidak memiliki perencanaan, tidak memilki pengetahuan tentang ACP, kemudian memililh ACP yang tidak sesuai standar sehingga menyebabkan kebakaran yang merata,” katanya. (rwo)

Comments

comments