Keberpihakan Masyarakat Penting untuk Wujudkan Kemandirian Industri Obat dan Alkes

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bersama Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris saat menjadi pembicara dalam rangka HUT Partai Golkar ke-56, di Hotel Four Seasons, Jakarta, Selasa (20/10). Diskusi mengambil tema "Membangun Kemandirian dan Daya Saing Industri Obat dan Alat Kesehatan sebagai Kunci Menopang Kesehatan Nasional"./Foto : Acuatoday.com

Acuantoday.com, Jakarta- Pemerintah terus mendorong kemandirian dan penggunaan obat dan alat kesehatan (alkes) produksi dalam negeri khususnya dalam penanganan pandemi vorus corona atau COVID-19.

Kemandirian industri obat dan alkes nasional dilakukan dalam upaya mewujudkan visi dan misi Presiden Joko Widodo yaitu menciptakan Indonesia maju berdaulat dan mandiri.

Penegasan disampaikan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto saat menjadi pembicara diskusi Webinar Nasional dalam rangka HUT Partai Golkar ke-56, di Hotel Four Seasons, Jakarta, Selasa (20/10).

Diskusi Webinar Nasional Partai Golkar itu mengambil tema “Membangun Kemandirian dan Daya Saing Industri Obat dan Alat Kesehatan sebagai Kunci Menopang Kesehatan Nasional”.

Menkes Terawan hadir secara fisik bersama pembicara lainnya Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris. Acara dimoderatori Anggota Komisi XI DPR RI Putri Komaruddin. Acara diskusi diikuti kader Golkar di seluruh Indonesia secara fisik maupun virtual.

Menurut Terawan, kunci dari kebangkitan industri obat dan alkes dalam negeri adalah masyarakat Indonesia sendiri selaku user (pengguna). Keberpihakan masyarakat sangat penting dalam menentukan maju mundurnya produk obat dan alkes dalam negeri.

“Harus diingat peran user itu sangat penting. Nah, kalau user-nya nggak mau minta produk alat tersebut, otomatis penggunaannya tidak bisa tinggi. Maka itu obat dan alkes produksi dalam negeri selalu dikenalkan melalui promosi maupun pendekatan user and user. Itu sangat penting,” tegasnya.

Saat ini, penggunaan obat dan alkes produk dalam negeri difasilitasi pemerintah. Dengan campur tangan pemerintah itu, pemanfaatannya bisa cepat naik hingga 30% untuk tahap pertama.

Untuk penanganan COVID-19, Menkes Terawan mengatakan pemerintah juga terus mendorong produksi Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). Apalagi belakangan produksi bahan baku farmasi di Tiongkok berhenti.

Hal itu akibat pandemi COVID-19 yang menyebabkan perdagangan ekspor impor terhenti, termasuk bahan baku farmasi. Bagi Menkes Terawan, persoalan itu bukan dinilai sebagai kendalan tetapi justru menjadi momentum kebangkitan OMAI di tanah air.

Untuk itu, selain mendorong masyarakat selaku user, Kementerian Kesehatan juga telah melakukan pembinaan kepada industri obat dan alkes dalam negeri, dengan menyertakan lintas lembaga antara lain bekerjasama dengan Kementerian Ristek/BRIN, juga menggandeng banyak Perguruan Tinggisehingga dapat memproduksi inovasi diasnotik yang terkait dengan COVID-19.

“Sampai saat ini terdapat dua produk regent untuk PCR, 10 produk rappid RI-GHA COVID-19, dan satu produk Rapid Diagnostics Test IgG/IgM Covid-19. Semua itu telah memenuhi standar dan mutu manfaatnya dari WHO,” kata Terawan menyebut beberapa contoh poduk obat dan alkes dalam negeri.

Dari beragam produk obat dan alkes produk anak bangsa yang telah memenuhi standar kesehatan dunia itu, Terawan mengatakan hal itu menjadi bukti kerja keras perjuangan para civitas Perguruan Tinggi, pelaku industri yang bersama-sama dikelola oleh kementerian terkait.

“Begitu nyata hasilnya dan ini diharapkan membuat penanganan COVID-19 lebih efisisen dan sustain,” tegasnya.

Direktut BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengatakani untuk mencapai Indoensia Mandiri memang butuh langkah-langkah. Terkait BPJS arahnya jelas bahwa bagaimana BPJS Kesehatan mampu berkontribusi dalam meningkakan SDM, sehingga tata kelola negara dengan konsep kemandirian kesehatan bisa tercapai.

Sesungguhnya, sambung Fahmi prasyarat untuk SDM yang harus bagus perlu didukung oleh semua elemen bangsa sehingga visi presiden bisa jelas dan diwujudkan terutama dalam perlidnungan sosial.

“Kami melihat jaminan kesehatan adalah kelebihan dan kekuatan kita. Kenapa? Karena saat ini pesertanya sudah 222 juta jiwa. Artinya kita punya potensi pasar besar kalau bicara kemandirian kesehatan seperti obat dan alkes,” tegas Fachmi Idris.(har)

Comments

comments