Kelalaian yang Mengandung Pelanggaran Hukum Bisa Dijerat Pidana

Pakar Hukum Pidana Abdul Fickar Hadjar./Foto: Antara

Acuantoday.com, Jakarta- Kesalahan dalam sebuah pelanggaran hukum bisa dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja.

Bercermin dari itu, kasus kebakaran gedung utama Kejaksaan Agung (Kejagung) bisa menarik perhatian publik, karena saat ini tugas penyidik Polri adalah membuktikan apakah unsur pidana dalam kebakaran itu disengaja atau karena kelalaian (tidak disengaja).

“Kesalahan itu bisa lahir dari kesengajaan atau karena kelalaian. Jadi, sangat mungkin seorang ditetapkan sebagai tersangka karena kelalaiannya menyebabkan kebakaran,” terang Pakar Hukum Pidana Abdul Fickar Hadjar kepada Acuantoday.com, Minggu (20/9/2020).

Abdul Fickar menjelaskan ada prosedur dan tahapan yang harus dilalui penyidik untuk menersangkakan seseorang dalam kasus ini. Pertama adalah memastikan ada tidaknya unsur kesengajaan.

Pasal 187 KUHP menyebutkan barangsiapa dengan sengaja mengakibatkan kebakaran terancam 12 tahun penjara, atau 15 tahun penjara, atau seumur hidup apabila ada korban meninggal.

Tahapan ini akan mempengaruhi berita acara pidana (BAP) dan hasil di persidangan bila kasusnya dilanjutkan ke meja hijau. Sebab ada perbedaan sangat jauh antara perbuatan yang dilakukan dengan sengaja dengan tidak disengaja dalam sebuah tindak pidana.

Namun hasil penyidikan nanti, sambung Abdul Fickar, bisa juga membuktikan adanya kesengajaan dengan melahirkan motif atau mens rea yang luas. “Tidak mustahil ada sangkut pautnya dengan kasus-kasus besar yang ditangani Kejaksaan Agung. Motifnya bisa dilandasi menghilangkan perkar,” ucapnya.

Hingga kini, dugaan adanya unsur pidana dalam kasus kebakaran gedung utama kejagung, masih terus didalami penyidik Polri. Untuk menetapkan tersangka kasus tersebut, Polri memerlukan minimal dua alat bukti.

“Itu sebagaimana ditentukan pad pasal 184 KUHAP ya. Baru kemudian menentukan siapa yang bertanggung jawab sebagai tersangka. Jadi, penetapan tersangka itu bagian akhir, paling tidak setelah ada dua alat bukti,” kata Abdul Fickar yang juga pengajar di Universitas Tri Sakti.(rwo/har)

Comments

comments