Kelas Ekonomi Menangah Siap Jadi Penggerak Ekonomi

Ilustrasi-Suasana belanja di sebuah departemen store sebelum masa pandemi./Foto: Acuantoday.com (Ahmadi Supriyanto)

Acuantoday.com, Jakarta―Kelas ekonomi menengah bakal menjadi motor penggerak ekonomi, terutama ketika kondisi sudah mulai normal. Jumlah kelas menengah yang saat ini menyimpan uangnya dan menahan untuk tidak dibelanjakan mencapai 50 juta orang.

“Kita masih punya aset yang belum muncul. Kelas menengah baru kita ini ada 50 juta dan uang mereka saat ini ada, tetapi tidak berani dibelanjakan,” kata Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin 

DKI Jakarta Sarman Simanjorang di Jakarta, Senin (28/9).

Sarman menyebut, masyarakat kelas menengah baru yang selama pandemi menyimpan pendapatannya untuk ditabung, siap menjadi penggerak perekonomian ketika mereka berinvestasi, baik properti, kendaraan bermotor, hingga elektronik.

Sarman menilai bahwa tidak dapat dipungkiri daya beli masyarakat ketika memasuki resesi akan semakin melemah. Namun demikian, terdapat potensi kelas menengah yang berjumlah 50 juta orang yang belum membelanjakan uang mereka.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 diproyeksi tetap terkontraksi minus sebesar 2,9 persen sampai 1,1 persen. Dengan demikian, Indonesia telah memasuki resesi.

Namun demikian, harapan tersebut dapat terealisasi jika secara bersamaan Pemerintah melakukan percepatan ketersediaan vaksin COVID-19.

Hadirnya vaksin tersebut tidak hanya membangun psikologis positif dari masyarakat dan pengusaha, tetapi juga tingkat kepercayaan dan optimisme yang akhirnya kembali menggairahkan pasar.

Selain itu, momen akhir tahun, yakni Natal dan Tahun Baru juga menjadi pemicu daya beli masyarakat kelas menengah, apalagi Pemerintah telah mengeluarkan keputusan menggeser cuti bersama Idul Fitri ke akhir tahun.

“Kalau kita mampu menekan COVID ini melalui penyediaan vaksin, setidaknya bulan November bisa normal kembali dan aktivitas usaha sudah berjalan, kami punya keyakinan kuartal IV bisa tumbuh positif walaupun rendah mungkin hanya 0,1 sampai 1 persen,” kata Sarman.

Oleh karena itu, Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta tersebut mendorong agar Pemerintah melalui Komite Penanganan COVID-19 dam Pemulihan Ekonomi Nasional mempercepat ketersediaan vaksin, menambah kemampuan testing spesimen, hingga menambah kesediaan tempat tidur di rumah sakit dan isolasi. (mad)

Comments

comments