Kembalikan Kepercayaan Publik Jadi Tugas Penting Kapolri Terpilih

Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo. (Foto : RhmatAcuantoday.com)

Acuantoday.com, Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI Aboe Bakar Alhabsyi mengatakan, Kapolri yang baru terpilih Komjen Pol. Listyo Sigit Prabowo miliki empat tugas penting untuk mengembalikan kepercayaan publik, setelah melewati tahun 2020 dengan berbagai polemik dalam penanganan kasus.

Menurut Aboe Bakar, kepercayaan publik terhadap Polri menjadi salah satu isu penting yang sepertinya perlu mendapat atensi Kapolri terpilih.

“Misalkan saja, bagaimana mungkin dokumen surat bebas COVID-19 untuk Djoko Tjandra yang seorang DPO ternyata diterbitkan oleh Pusdokkes Polri. Ada lagi surat jalan yang dikeluarkan oleh Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Polri untuk Djoko Soegiarto Tjandra,” kata Aboe Bakar kepada wartawan, Kamis (21/1).

Kejadian yang terjadi di tahun 2020 membuat publik merasa pesimis dengan semangat reformasi Polri maupun profesionalisme Polri. Menurut Aboe Bakar, hal ini akan menurunkan kepercayaan publik, hingga masalah ini perlu menjadi perhatian Kapolri baru. Lanjut politis PKS ini, banyak pihak menilai bahwa saat ini Polri kurang dekat dengan ummat, bahkan sebagian lagi menilai Polri kerap tajam terhadap ummat.

Selain itu, Komjen Pol. Listyo Sigit adalah perlu jaminan bahwa tugas Polri dilaksanakan secara profesional dengan menggunakan pendekatan yang humanis. Sebagai catatan bahwa tahun 2020 Kontras menyatakan Polri diduga terlibat dalam 921 kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) sepanjang Juli 2019 sampai Juni 2020. Dari peristiwa itu, 1.627 orang luka-luka dan 304 orang tewas. Kejadian lain yang menjadi perhatian publik adanya extra judicial killing di KM 54 pada bulan Desember 2020.

“Situasi ini membuat kita sebagai anggota Komisi III yang menjadi mitra Polri selama ini banyak sekali dimintai penjelasan oleh masyakat soal isu-isu demikian, misalkan kenapa penanganan demo kok represif? Kenapa pelanggaran prokes sampai dibuntuti ? kenapa pelanggaran prokes sampai membuat 6 nyawa melayang,” ucapnya.

“Oleh karenanya untuk selanjutnya, pendekatan yang profesional dan humanis oleh Polri perlu lebih dikedepankan. Sehingga Polri melindungi dan mengayomi akan semakin dirasakan masyarakat,” tambahnya.

Selain itu, langkah mereformasi tubuh Polri adalah hal utama, agar isu terkait faksi dalam institusi Polri bisa terbantahkan. “Sehingga Pimpinan Polri tidak berani mereformasi Polri menjadi institusi yang dipercaya,” ungkapnya.

Dijelaskan Aboe Bakar, independensi dan soliditas menjadi sangat penting, dan sepanjang institusi Polri bekerja tegak lurus menjalankan tugas secara independent, maka soliditas korps akan bisa terjaga dengan baik.

“Sebaliknya jika ada yang tengak-tengok, maka masing-masing personel akan bekerja untuk kepentingan pribadi atau kelompok, sehingga tidak ada lagi soliditas di korps Polri,” jelasnya. (rht)

Comments

comments