Kesaksian Korban Salah Tangkap Demo UU Cipta Kerja

Polisi mengamankan demonstran yang diduga sebagai perusuh demo, Selasa (13/10). Rahmat (Acuantoday.com)

Acuantoday.com, Jakarta- Seorang mahasiswa dengan nama samaran Agus tidak menyangka akan ditangkap polisi saat turun dari sebuah halte di sekitaran lokasi demonstrasi UU Cipta Kerja pada 8 Oktober lalu.

Meski menyandang status mahasiswa, namun kehadiran Agus ditengah-tengah aksi demonstrasi bukan ikut dalam gerakan unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. Tetapi ia akan meliput kegiatan unjuk rasa untuk dimuat dalam media internal kampusnya.

Belum sampai pada titik konsentrasi massa demo di kawasan silang Monumen Nasional (Monas), Agus sudah dihadang polisi. Ia ditanya-tanya dan isi tasnya diperiksa.

“Mereka (polisi) bilang ikut aja dulu sini, mau demo kan? Sudah dijawab dari pers mahasiwa, tapi kami malah dibawa ke bawah fly over buat diperiksa,” ungkap Agus dalam diskusi virtual yang digelar YLBHI dengan tajuk “Menyoal Demokrasi dan Tindakan Represif Aparat dalam Negara Hukum”, Senin (26/10).

Di bawah fly over, ia melihat kerumunan orang yang juga ditangkap polisi. Sejurus kemudian, polisi memasukkan semuanya ke mobil untuk dibawa ke Polda Metro Jaya.

Dalam perjalanan di mobil petugas polisi, ponsel Agus diambil paksa dan dilihat isi percakapan whatsapp (WA) nya. Setibanya di Mapolda Metro Jaya, Agus dan rombongan digiring ke ruangan kecil yang pencahayaannya tidak terlalu terang.

“Ada 200-an orang di kumpul di ruangan nggak layak dan sempit. Kami disuruh buka baju untuk difoto-foto. Setelah itu didiamkan saja tanpa ditanya-tanya,” ujarnya.

Seratusan orang yang berada di dalam ruangan di Polda Metro Jaya itu tidak semuanya mengenakan masker. Polisi baru berinisiatif membagikannya dan pencuci tangan selang setengah jam kemudian.

Sambil menunggu kepastian dibebaskan, obrolan santai terjadi. Dari obrolan itu, Agus menyimpulkan bahwa ia dan banyak diantara yang ditangkap ini merupakan korban salah tangkap.

Ia mencontoh, ada dua orang berstatus santri yang ditangkap, kemudian beberapa orang lagi ditangkap karena hanya gara-gara mengenakan baju hitam.

“Mereka (berbaju hitam) nggak tahu apa-apa soal demo. Lagi makan gorengan terus disuruh ikut polisi,” ucapnya.

Hampir seharian, korban salah tangkap ditahan di ruang sempit di markas polisi, sebelum akhirnya Tim Advokasi untuk Demokrasi yang terdiri dari lintas lembaga bantuan hukum, seperti LBH Jakarta, datang menjemput.

“Waktu itu tim Advokasi untuk Demokrasi yang jemput ke Polda, dilepasnya bergiliran. Pertama mahasiswa, kedua pelajar,” jelas Agus.(rwo)

Comments

comments