Kirab Obor Olimpiade Tokyo Dimulai, Penonton Dimbau Tak Bersorak

Sejumlah warga mengekanan masker untuk menghidari penuralan COVID-19 saat menyaksikan obor api abadi Olimpiade Tokyo 2020 di dekat stasiun kereta Miyako, Iwate, Jepang (22/3).Foto:AFP/Philip Fong

Acuantoday.com –  Kirab obor untuk Olimpiade Tokyo dimulai, dengan titik awal keberangkatan prefektur Timur Laut Jepang, Fukushima, Kamis (25/5).

Upacara pembukaan kirab obor, di pusat pelatihan sepak bola J-Village hanya dihadiri oleh sejumlah orang, sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona.

Sekitar 10.000 pembawa obor akan melewati 859 kota di 47 prefektur Jepang dalam 121 hari, mencakup sejumlah lokasi terkenal, termasuk Gunung Fuji.

Kirab obor akan menjadi kesempatan penting bagi panitia penyelenggara untuk meyakinkan orang-orang di Jepang bahwa panitia mampu menyelenggarakan pertandingan dengan aman. Kirabobor diperkirakan melibatkan lebih dari 15.000 atlet.

“Api terus menyala dengan tenang, tetapi dengan kuat bahkan saat dunia menghadapi masa-masa sulit selama setahun terakhir,” ujar presiden panitia penyelenggara, Seiko Hashimoto.

“Api akan memulai perjalanan 121 hari dan akan membawa harapan bagi rakyat Jepang dan perdamaian dari orang-orang di seluruh dunia,” tambah Seiko.

Panitia mengatakan kirab bisa saja ditangguhkan, atau beberapa rute program mungkin dilewati, jika terlalu banyak orang berkumpul di pinggir jalan. Penonton didorong untuk beralih ke siaran langsung online dan menahan diri untuk tidak bepergian ke luar prefektur rumah mereka untuk menonton estafet tersebut.

Penonton harus memakai masker dan juga diminta untuk bertepuk tangan daripada bersorak. Para pelari, yang masing-masing akan membawa obor bermotif bunga sakura dengan jarak sekitar 200 meter, diharuskan mencatat informasi kesehatan mereka dan diminta untuk tidak makan bersama orang lain.

Kirab obor Olimpiade dimulai di Fukushima dalam upaya untuk menunjukkan kemajuan yang telah dicapai Jepang dengan rekonstruksi wilayah timur laut yang dirusak oleh gempa bumi, tsunami dan bencana nuklir pada Maret 2011.

Anggota tim sepak bola putri Jepang Nadeshiko yang memenangkan Piala Dunia Wanita 2011 adalah pelari pertama estafet yang dimulai dari kompleks olahraga J-Village, yang berfungsi sebagai pangkalan garis depan dalam pertempuran melawan krisis nuklir di pembangkit listrik Fukushima Daiichi.

Obor berbobot 1,2 kilogram itu sebagian dibuat dari aluminium daur ulang yang digunakan untuk membangun rumah setelah bencana gempa bumi besar terjadi di wilayah tersebut. (Bram/Antara)

Comments

comments