Klaster Demo Merebak, 21 Ribu Personel Polisi Bakal Dites Usap

Polisi berjaga-jaga di sekitar kawasan Senayan untuk menjaga situasi dalam aksi demo UU Cipta Kerja./Foto: Acuantoday.com (Rahmat Tuny)

Acuantoday.com, Jakarta―Polisi tidak ingin kecolongan atas merebaknya koronavirus akibat aksi demo penolakan Omnibus Law Cipta Kerja pada tanggal 8 dan 13 Oktober 2020 lalu, dengan melakukan uji usap terhadap 21 ribu personelnya yang mengamankan aksi massa itu.

“Secara bertahap, kami lakukan tes swab untuk semua personel. Jangan sampai merebak klaster virus dari demo ini,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus dalam keterangannya, Minggu (18/10).

Menurut Yusri menjelaskan, sejauh ini pihaknya pihaknya sudah mengidentifikasi delapan aparat yang terkonfirmasi positif koronavirus. Mereka menjalani tes usap usai ditemukan sejumlah pendemo reaktif koronavirus, berdasar hasil rapid test.

Sebelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Argo Yuwono menyampaikan, sekira 145 dari 1.192 pendemo yang berunjuk rasa pada 8 Oktober di ibu kota dinyatakan reaktif corona dan 27 orang di antaranya dirujuk ke Wisma Atlet untuk menjalani tes swab dan perawatan.

Klaster demo di Jakarta diprediksi Epidemiolog Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyoni, sebagai sebuah keniscayaan. Menurutnya, virus dengan mudah merebak di tengah kerumunan massa, terlebih saat kondisi massa tak mengindahkan protokol kesehatan.

“Pada prinsipnya 3M (Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) adalah ‘vaksin’ saat ini sebelum ada vaksin sebenarnya. Momen demo kemarin membuka celah pelanggaran protokol kesehatan. Kasus positif muncul dari demo itu sebuah keniscayaan,” ujarnya kepada Acuantoday.com, Minggu.

Ia berpendapat transmisi penularan virus lewat droplet, sangat rentan terjadi dalam kerumunan massa, terlebih dalam konteks demonstrasi, yang menyuarakan aspirasi secara terbuka di tempat umum.

“Sederhananya, satu orator pakai mic bergantian dengan otator lain. Kita nggak tau mereka imunnya seperti apa dan bisa saja droplet nempel di mic,” tutur Tri.

Potensi merebaknya klaster demo Omnibus Law, dikatakan Tri, bisa diperparah dengan kebijakan pelonggaran PSBB. Massa aksi yang belum teridentifikasi lewat tes rapid atau swab berpotensi menularkan saat berinteraksi di tempat keramaian.

“Jakarta lagi longgar PSBB-nya. Patut diwaspadai lonjakan kasus positif dari mereka (yang terlibat demo) terutama yang OTG. Bisa menulari di dalam dan di luar rumah,” katanya. (rwo)

Comments

comments