Kolaborasi Bank-Fintech Makin Terbuka Lebar

Ilustrasi-Transaksi digital. /Foto: Antara

Acuantoday.com, Jakarta―Pakar ekonomi sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Sri Adiningsih menilai kolaborasi perbankan dan fintech semakin terbuka lebar seiring semakin maraknya digitalisasi.

“Apalagi kalau kita bicara di Indonesia sendiri ternyata masyarakatnya open to digital banking,” ujar Sri dalam seminar daring bertajuk “Membangun Ekosistem Keuangan Digital” di Jakarta, Selasa (15/12).

Berdasarkan hasil survey McKinsey pada 2019, sebanyak 56 persen responden nondigital di Indonesia menyatakan kemungkinan akan menggunakan layanan perbankan digital (digital banking) dalam enam bulan ke depan. 

Survei juga menunjukkan sekitar 50 persen responden mempertimbangkan untuk menggunakan bank tanpa fisik.

“Ke depan tampaknya masyarakat kita akan lebih banyak menggunakan digital banking. Masyarakat kita tidak anti, tapi tampaknya menikmati dengan digital banking,” kata Sri.

Menurut Sri, kolaborasi perbankan dan fintech akan berdampak positif karena akan memanfaatkan kelebihan dari keduanya dan sekaligus menutupi kekurangan masing-masing. 

Misalnya, bank dapat memiliki biaya modal yang rendah, sedangkan fintech mendapatkan analitik mutakhir dan manajemen data.

“Misalkan low cost of capital. Fintech juga bisa salurkan kredit dengan mudah dan cepat karena lebih luwes untuk implementasinya,” ujar Sri.

Sri menuturkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator juga telah mengeluarkan berbagai aturan agar ekosistem keuangan digital, khususnya ekosistem fintech, dapat berkembang dengan baik. 

Selain itu, inisiatif Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025 oleh Bank Indonesia juga menjadi krusial dalam mendorong terciptanya ekosistem digital yang baik.

Kendati demikian, sejumlah isu dan tantangan juga mengiringi upaya pengembangan keuangan digital, salah satunya terkait keamanan siber dan perlindungan data pribadi yang saat ini masih berupa Rancangan Undang-Undang. 

Berdasarkan Deloitte Global Digital Survei pada 2019, sebanyak 36 organisasi punya pengalaman yang tidak baik dengan transformasi digital. 

Sedangkan berdasarkan survei ISED 2020, sebanyak 30 persen responden menyatakan data pernah disalahgunakan.

“Jadi memang risiko dari digital risk juga cukup besar, apalagi memang regulatory framework, aturan-aturan yang dibangun itu lagi tengah disiapkan dan belum jadi di Indonesia. Kita tunggu mudah-mudahan segera siap,” kata Sri. (ahm)

Comments

comments