Komisi X Minta Tenaga Pendidikan Tidak Bersikap Radikal dan Diskriminatif

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian. (Foto : Biro Pemberitaaan DPR RI)

Acuantoday.com, Jakarta – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian meminta proses seleksi tenaga pendidikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus ketat, hingga tidak terjadi sikap-sikap diskriminatif dan radikal, khususnya yang berkaitan dengan keyakinan.

“Proses seleksi saat rekrutmen harus lebih ketat, dan juga perlu ditatar sedemikian rupa, berarti dari Kemendikbud harus ada frameworknya yang jelas. Sehingga sanksi bisa ditegakkan jika dilanggar,”kata Hetifah kepada wartawan, Sabtu (23/1).

Apalagi, kata politisi Partai Golkar ini terjadi tindakan diskriminatif terhadap siswa seperti yang terjadi di SMK Negeri 2 Padang, Sumatera Barat yang meminta siswi non muslim menggunakan jilbab.

“Tenaga pendidik tentu saja harus menjadi contoh. Jangan bersikap radikal dan diskriminatif,” ucapnya.

Menurut Hetifah, praktik yang dilakukan oleh pihak sekolah tidak bisa dibenarkan karena kebebasan untuk mempraktikkan ajaran agama adalah hak setiap pemeluknya, tanpa ada pemaksaan.

“Kemendikbud harus memberikan penekanan bahwa praktik seperti itu tidak dibenarkan kepada seluruh satuan pendidikan. Kebebasan untuk mempraktikkan ajaran agama sesuai kepercayaan masing-masing adalah hak yang terjamin dalam konstitusi dan harus dimulai dari instansi pendidikan di bawah pemerintahan,” jelasnya.

“Intinya sekolah negeri tidak boleh memaksakan murid mengenakan atribut keagamaan, sebaliknya juga nggak boleh memaksa melepaskan atribut, misalnya di daerah yang mayoritas nonmuslim juga nggak boleh maksa melepaskan hijab,” jelasnya.

Ditegaskan Hetifah, kejadian pemaksaan pihak sekolah yang meminta siswi non muslim menggunakan simbol agama perlu mendapat perhatian serius Kemendikbud, termasuk memberikan sanksi tegas.

“Menurut saya sanksi tetap perlu. Kalau kalau masalah begini tidak viral belum tentu satuan pendidikan menyadari kesalahannya. Tugas kita bersama termasuk DPRD dan DPR ikut mengawasi agar peristiwa serupa ini tidak terulang,” tegasnya.

Sebelumnya, video viral yang memperlihatkan percakapan antara orang tua Jeni Cahyani Hila bersama pihak sekolah terkait dengan penggunaan jilbab oleh siswi non muslim. Atas kejadian ini, banyak pihak yang menyayangkan kejadian tersebut.

Selain itu, berdasarkan penjelasan Kepala SMK Negeri 2 Padang Rusmadi mengungkap ada 46 siswi nonmuslim yang berada di sekolah tersebut. Rusmadi menyebut seluruh siswi nonmuslim di SMK tersebut mengenakan hijab dalam aktivitas sehari-hari, kecuali Jeni Cahyani Hia. (rht)

Comments

comments