KPK Dalami Keterlibatan Politikus PDIP di Kasus Bansos

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron saat konferensi pers di Jakarta./Foto: Acuantoday.com (Ali)

Acuantoday.com, Jakarta―Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami keterlibatan politikus Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Ihsan Yunus dalam kasus dugaan suap pengadaan bantuan sosial (bansos) di Kementerian Sosial pada 2020. 

Pasalnya, di dalam penyelidikan nama Ihsan muncul dari keterangan terperiksa.

“Di dalam penyidikan menunjukkan ada keterlibatan pihak lain. Jadi, kita sedang memungkinkan menyasar pihak-pihak tersebut,” kata Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron dalam konferensi pers di KPK, Selasa (2/2).

Ghufron mengatakan, rekonstruksi merupakan cara penyidik untuk mengembangkan perkara suap yang menjerat mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara itu. 

KPK sudah mencatat fakta-fakta baru dalam rekonstruksi itu.

Temuan itu akan dikonfirmasi ke para tersangka dan saksi lain yang akan dipanggil. Namun untuk saat ini, aku Ghufron, belum ada bukti kuat keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut.

“Sekarang, rekonstruksinya dalam kerangka suap,” papar Ghufron.

Pimpinan KPK, tegas Ghufron, menjamin siapa pun yang menikmati uang haram yang merugikan negara dalam kasus ini bakal diseret ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Tidak hanya dugaan suap, tapi pada pasal-pasal yang lain. Sekali lagi, kami secara normatif berdasarkan alat bukti. Kami tentu akan kembangkan sesuai dengan temuan alat bukti tersebut,” ujarnya.

Dalam rekonstruksi perkara di Gedung C1 KPK kemarin, Ghufron menerangkan, nama Ihsan Yunus diduga kuat terlibat dalam kasus dugaan suap pengadaan bansos. Nama Ihsan bahkan muncul pada adegan pertama rekonstruksi.

Saat diperagakan peran pengganti dalam reka ulang, Ihsan diduga bertemu tersangka sekaligus pejabat pembuat komitmen (PPK) Kementerian Sosial (Kemensos) Matheus Joko Santoso. Pertemuan keduanya, yaitu sebelum ada Covid-19, juga diikuti Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial, M Safii Nasution.

Pertemuan mereka, Ghufron menjelaskan, berlangsung di ruang kerja Safii pada Februari 2020. KPK menduga pertemuan itu merupakan awal mula rencana tindak korupsi yang mereka lakukan.

Operator Ihsan, Agustri Yogasmara alias Yogas, papar Ghufron, juga tiga kali bertemu dengan tersangka dari pihak swasta Harry Sidabuke. Pertemuan keduanya terjadi pada Mei, Juni, dan November 2020.

Tahun lalu, tepatnya pada Juni 2020, Yogas diberi uang senilai Rp1,53 miliar oleh Harry. Duit itu, kata Ghufron, diberikan di dalam mobil di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. 

Sebelumnya, pada November 2020, Harry memberikan dua sepeda Brompton ke Yogas di PT Mandala Hamonangan Sude. (mmu)

Comments

comments