KRL Larang Penggunaan Masker Scuba dan Buff, Epidemiolog UI: Pakai Masker Itu Percuma

Situasi di dalam gerbong KRL Bogor-Jakarta dalam masa pandemi. Penumpang kebanyakan mengenakan masker./Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibowo)

Acuantoday.com, Jakarta – PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengeluarkan aturan baru yang melarang penumpang menggunakan masker jenis scuba atau buff. Kedua bahan masker itu dinilai tak efektif menahan droplet atau cairan. 

“Hindari pemakaian masker scuba atau buff yang hanya lima persen efektif mencegah risiko terpaparnya akan debu, virus, dan bakteri,” kata VP Corporate Communication PT KCI, Anne Purba dalam keterangan tertulisnya, Rabu (16/9).

Dengan adanya larangan penggunaan masker jenis scuba dan buff ini, dia berharap potensi penularan COVID-19 dalam kereta bisa dikurangi.

Tak efektifnya dua masker itu menahan droplet, diamini oleh Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko Wahyono. Ia bahkan menyebut seseorang yang memakai di antara dua masker itu sama saja dianggap tak bermasker. 

Kecenderungan bahan masker scuba atau buff yang tipis satu lapis, dikatakannya, tidak memproteksi orang yang memakainya. 

“Scuba itu kan bahan kain yang longgar pori-porinya, kalaupun dua lapis ya masih longgar juga. Masker itu bisa menyaring debu, tapi tidak dengan bakteri apalagi virus” kata Tri kepada wartawan Acuantoday.com, Rabu (16/9).   

Akibatnya, ia melanjutkan, virus dengan gampang menempel ke masker dan kemudian masuk ke saluran pernafasan atau mulut. 

“Probabilitas tertularnya lebih besar,” tandas staf ahli penanganan COVID-19 Kota Depok dan Bogor itu. 

Namun, jika imunitas orang yang tertular kebetulan bagus, menurutnya, tidak akan sakit. Tapi, kalau imunitasnya jelek atau kurang makan, mungkin tidak akan sakit.

Karenanya, ia menyarankan untuk menyetop penggunaan masker scuba. Kalau pun tetap ingin memakainya, dipastikan dilapisi dengan bahan yang berbeda. 

Dikutip dari laman Kawalcovid-19.id, masker berbahan dasar kain hanya bisa menangkap 50 persen dari 0.02 partikel mikron. Namun, ketika kainnya digabung, tingkat serapannya mencapai 97 persen, sama seperti daya serap masker bedah. 

Kendati daya serapnya menyerupai masker bedah, Tri berpendapat masker kain memiliki daya tahan singkat, yakni 4 jam sekali mesti diganti masker baru. Selain itu, masker berbahan dua lapis kain dinilai tak efektif, karena ketebelannya menganggu kenyamanan pengguna. 

“Jadi, kalau masker kain dua lapis itu biasanya sering dibuka karena sesak. Makin sering dibuka, makin berisiko masuk droplet, terutama lagi berkontak sama orang,” ujarnya. (rwo)

Comments

comments