Kudeta Militer Myanmar, PBB Khawatirkan Nasib Warga Rohingya

Acuantoday.com, New York  – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) khawatir kudeta di Myanmar memperburuk nasib sekitar 600.000 warga Muslim Rohingya yang berada di negara itu.

“Mereka tidak dapat bergerak bebas dan memiliki akses yang sangat terbatas ke layanan kesehatan dan pendidikan dasar,” kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric,  Senin waktu setempat.

Tindakan keras militer Myanmar pada 2017 di Negara Bagian Rakhine memaksa lebih dari 700.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dan negara-negara Barat menuduh militer Myanmar melakukan pembersihan etnis—sebuah tuduhan yang dibantah oleh Myanmar.

“Jadi ketakutan kami adalah bahwa peristiwa tersebut dapat memperburuk situasi bagi mereka (warga Rohingya),” ujar Dujarric.

Untuk itu, Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara berencana membahas Myanmar dalam pertemuan tertutup pada Selasa.

“Kami ingin mengatasi ancaman jangka panjang terhadap perdamaian dan keamanan, tentu saja bekerja sama erat dengan tetangga Myanmar di Asia dan ASEAN,” ujar Duta Besar Inggris untuk PBB Barbara Woodward.

Tentara Myanmar mengatakan telah menahan Suu Kyi dan lainnya sebagai tanggapan atas “kecurangan pemilu”, menyerahkan kekuasaan kepada panglima militer Min Aung Hlaing dan memberlakukan keadaan darurat selama satu tahun.

Militer Myanmar merebut kekuasaan dalam kudeta melawan pemerintah Aung San Suu Kyi yang terpilih secara demokratis. Suu Kyi ditahan bersama dengan para pemimpin politik lainnya dalam penggerebekan pada Senin dini hari.

PBB menyerukan pembebasan semua orang yang ditahan, kata Dujarric. Dia mengatakan bahwa Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Myanmar Christine Schraner Burgener, “tetap terlibat secara aktif” dan kemungkinan akan memberi pengarahan kepada Dewan Keamanan.

PBB telah lama hadir di Myanmar. Utusan Dewan Keamanan melakukan perjalanan ke Myanmar pada April 2018 dan bertemu secara terpisah dengan Suu Kyi dan Min Aung Hlaing setelah tindakan keras terhadap Rohingya. (Bram/Antara)

 

Comments

comments