Lagi, Polisi Tangkap Sepuluh Orang Pengendali Demo Ricuh

Halte Busway Transjakarta terbakar saat demo penolakan UU Cipta Kerja berlangsung./Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibowo)

Acuantoday.com, Jakarta―Polisi kembali menangkap pelaku yang diduga jadi provokator di balik demo anarkis Undang-undang Cipta Kerja di Jakarta pada 8 dan 13 Oktober 2020.

Para pendemo disebut berasal dari kalangan pelajar STM ini diduga datang ke titik demo dan berbuat rusuh, lantaran dipicu ajakan dari media sosial.

Sepuluh orang berstatus pelajar telah ditangkap itu, diduga sebagai pengendali massa di balik layar.

“Massa diajak mempersiapkan petasan, molotov, senter, laser, dan ban bekas,” kata Nana di Polda Metro Jaya, Selasa (27/10).

Ia menjabarkan, mereka yang ditangkap terdiri dari delapan anggota grup WhatsApp, satu administrator dan satu kreator akun Facebook STM se-Jabodetabek.

Sepuluh pelaku itu, disebutkan Nana, merupakan anak di bawah umur. Mereka adalah DS (17) dan MA (15) yang merupakan anggota grup WhatsApp ‘Dewan Penyusah Rakyat’; AH (16) dan MNI (17) anggota grup WhatsApp ‘Ruang Guru’; AS (15), FIQ (16), FSR (15) dan AP (15) merupakan anggota grup WhatsApp ‘Omnibus Law Jakarta Timur’.

“Sementara GAS (16) merupakan admin akun Facebook dan JF (17) ialah kreator akun,” imbuhnya.

Polisi masih memburu pihak lain yang diduga turut tersangkut dalam kasus ini.

Para pelaku itu, disangkakan dengan Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 45a ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE, dan terancam enam tahun penjara.

Selanjutnya, dikenakan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, dengan hukuman penjara maksimal 10 tahun.

Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 dengan ancaman maksimal tiga tahun kurungan. Pasal 160 KUHP, Pasal 55 KUHP, dan Pasal 56 KUHP dengan ancaman penjara maksimal enam tahun.

Sebelumnya, sepanjang pekan unjuk rasa di Ibu Kota, polisi telah menangkap 2.667 demonstran yang 70 persennya di antaranya berstatus pelajar.

Dari jumlah itu 143 orang resmi jadi tersangka, sedangkan 67 orang ditahan dengan 31 di antaranya merupakan pelajar. Mereka diduga merusak sejumlah fasilitas publik dan menyerang aparat.

Para pelajar berasal dari lintas daerah, mulai dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Cilegon, Sukabumi, Subang hingga Indramayu. (rwo)

Comments

comments