Langkah Percuma Anies Ajak Bodetabek PSBB Total

Arus lalu lintas sekitaran Pancoran, Jakarta Selatan tampak lengang saat hari pertama PSBB ketat kembali diberlakukan./Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibowo)

AJAKAN Gubernur Anies Baswedan kepada kepala daerah di kawasan Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek) untuk kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara ketat, ternyata bertepuk sebelah tangan. 

Gubernur Ridwan Kamil justru mengambil langkah pembatasan secara mikro untuk kawasan Bodebek. Begitu pun di Tangerang Raya, Gubernur Wahidin Halim memutuskan tak lagi menerapkan PSBB ketat. 

PSBM atau Pembatasan Sosial Berskala Mikro dipilih Ridwan Kamil karena pertimbangan ekonomi. Perekonomian di kawasan Bodebek dinilai tak sepenuhnya bergantung ibu kota, yang kini berstatus sebagai episentrum wabah. Karenanya, pembatasan hanya berfokus pada lokus dengan potensi penularan yang tinggi.

Sementara di Tangerang Raya, Wahidin Halim menegaskan penularan virus corona di wilayahnya tidak mengenal istilah “rem darurat”.  PSBB dijalankan terus sejak bulan April, tanpa ada perubahan berarti sampai sekarang. 

PSBB ketat di daerah penyangga ibu kota, utamanya kawasan Bodebek, berlangsung sejak awal April hingga mulai dilonggarkan per awal Juni lalu. Alih-alih menekan angka penularan, justru yang terjadi penambahan kasus positif virus SARS CoV-2 bergerak secara fluktuatif, bahkan beberapa kali waktu terjadi lonjakan signifikan. 

Kata Epidemiolog Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, ajakan Anies agar kawasan Jabodetabek menjalani PSBB total secara serentak merupakan hal yang semestinya ditempuh, mengingat tren penularan di kawasan tersebut bukan hanya secara transmisi lokal, tapi juga terjadi secara imported case.

“Daerah Jabodetabek ini satu kesatuan secara epidemiologi,” ucap Windhu kepada wartawan Acuantoday.com, Rabu (16/9). 

Ketika PSBB di Jakarta sudah selesai dan membaik, menurut dia, tren penularan jadi menurun, tapi jadi percuma ketika di Bodetabek tidak melakukan PSBB yang serupa. Dan, ketika orang datang lagi ke Jakarta, kembali lagi Jakarta kena, tinggi lagi kasusnya. 

“Jadi penularan itu geraknya seperti main pingpong,” imbuhnya. 

Tapi yang jadi pertanyaan, apabila ajakan Anies direspons positif, apakah jadi jaminan tren penularan di Jabodetabek melandai?  

Menurut Windhu, PSBB dinilai berjalan efektif selama dibarengi intervensi medis berupa skrining massal guna melacak lokus penularan. Lain itu, yang terpenting dinilai dari sedikitnya angka penularan dan bagaimana kehadiran pemerintah dalam mengatur masyarakat mematuhi aturan PSBB.

NEXT PAGE

Comments

comments