Longgarkan PSBB di Masa Demo, Anies Dikritik Epidemiolog

Demonstrasi menolak UU Ciptaker di sepanjang ruas Jalan MH Thamrin. Massa terdiri dari buruh, mahasiswa hingga pelajar STM. Foto: Rohman Wibowo/Acuantoday.com

Acuantoday.com, Jakarta―Keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melonggarkan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB mendapat kritik.

Anies dituding terburu-buru mengambil keputusan di tengah aksi demo menolakn Undang-Undang Cipta Kerja yang dimungkinkan terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Akibatnya, PSBB transisi berjalan diprediksi tidak efektif menekan laju penularan COVID-19.

“Setelah longgar PSBB, trennya masih sama sebelum vaksin ada, yaitu kasus naik lagi. Nah sekarang ditambah klaster demo. Itu berpotensi, mempercepat tingkat penularan,” kata Epidemiolog dari Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono kepada Acuantoday.com, Senin (12/10).

Tri menyebut, saat ini tingkat penularan atau angka reproduksi penularan koronavirus berada di angka sekitar satu. Artinya, 900 pasien bisa menulari 900 orang lainnya. Dengan adanya demonstrasi yang menciptakan kerumunan massa, staf ahli Satgas COVID-19 Kota Bogor dan Depok itu, memprediksi angka penularannya menjadi dua.

“Dengan adanya demo ditambah penerapan PSBB transisi, bisa jadi akan dua kali lipatnya, jadi sekitar 1.800 kasus per hari. Reproduction number atau Rt-nya jadi naik dua, bisa-bisa,” ujarnya.

Dalam pandangannya, Gubernur Anies seharusnya menunggu kemungkinan lonjakan kasus positif dari klaster demo, sebelum akhirnya melonggarkan PSBB.

“Pak Gubernur terlalu terburu-buru melakukan PSBB transisi ketika ancaman Covid meninggi karena demo kemarin (8 Oktober),” ucapnya.

Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, ia berpendapat, Anies bakal kembali memberlakukan pengetatan PSBB, ketika lonjakan kasus terjadi, utamanya saat terjadi penularan secara masif dari klaster demo.

“Ya tarik rem darurat lagi seperti kemarin karena ada lonjakan kasus, yang berdampak pada tingkat keterisian rumah sakit jadi penuh,” tuturnya.

Sementara itu, keputusan balik ke PSBB transisi diambil Anies berdasar catatan epidemiologi, yang menunjukkan meredanya laju penularan koronavirus di ibu kota, sejak 14 September.

Tingkat risiko penyebaran virus, dikatakannya, masuk tingkat risiko sedang dengan skor 2.095 atau dengan kata lain cenderung rendah dibanding 13 September. Saat itu, penyebaran virus corona berada di tingkat risiko tinggi dengan skor 14.725. Tingkat

Selain itu, Anies mengklaim fasilitas kesehatan di 98 rumah sakit rujukan COVID-19 mulai kembali memadai dengan memiliki kapasitas 5.719 tempat tidur isolasi dan 766 tempat tidur ICU. (rwo)

Comments

comments