Malioboro Seperti Kota Mati

Suasana Jalan Malioboro yang biasanya ramai dipadati pengunjung tampak sepi sejak diberlakukannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) 11 Januari 2021.(Foto : Chaidir/Acuantoday.com)

Acuantoday.com, Yogyakarta- Ada suatu yang berbeda di poros Tugu Pal Putih, Malioboro, Titik Nol Kilometer, hingga Kraton Yogyakarta saat diberlakukannya program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada Senin (11/1/2021).

Poros Tugu hingga Kraton itu merupakan kawasan ramai wisatawan saat hari-hari biasa. Namun suasana berbeda sama sekali saat Senin malam itu, setelah semua toko, mall, pedagang kaki lima (PKL) diharuskan tutup pada pukul 19.00.

Lampu-lampu penerangan banyak dipadamkan, sehingga kawasan itu terutama di sepanjang Jalan Malioboro terasa seperti “kota mati”, sepi dan gelap.

Sepi dan lengangnya Jalan Malioboro membuat warga yang melintas begitu bebas memanfaatkan jalan. Bahkan ada sejumlah remaja yang bermain-main dengan bebasnya lantaran tak ada kendaraan bermotor. Di sepanjang Jalan Malioboro memang sudah diberlakukan bebas kendaraan bermotor dari pukul 18.00 sampai 21.00.

Di hari kedua PPKM, tim gabungan Kota Yogya terus melakukan pengawasan. Hal ini guna memastikan pelaksanaannya dilakukan dengan benar. Satpol PP Kota Yogya melakukan pengawasan di berbagai titik di Kota Jogja.


Sudut lain Jalan Malioboro yang juga tampak sepi sejak diberlakukannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) 11 Januari 2021.(Foto : Chaidir/Acuantoday.com)

Kepala Satpol PP Kota Jogja, Agus Winarto menyebutkan bahwa pihaknya memantau seluruh wilayah Kota Yogya dengan area Gumaton (Tugu – Malioboro – Keraton) sebagai utamanya.

“Kita tetap kawal SE tersebut, titik pantauan tersebar di seluruh wilayah Kota Jogja. Hanya yang Gumaton menjadi pantauan utama,” kata Agus.

Agus menjelaskan, untuk memantau penerapan PTKM di wilayah, Satpol PP Kota Yogya bekerja sama dengan Kemantren yang disokong rekan BKO.

“Petugas kami siagakan untuk melakukan patroli di titik-titik tersebut. Termasuk back up dari Satpol PP DIY. Kita lebih tekankan untuk mobile,” terangnya.

Tidak hanya awasi penerapan PPKM, patroli yang digalakkan juga pantau penerapan prokes masyarakat. Sanksi diberikan kepada para pelanggar prokes maupun PTKM.

“Kami tetap tegur lisan dulu, kalau enggak menaati kita lakukan peringatan tertulis. Setelah 3×24 jam masih ngeyel ya sebaiknya tutup dulu. Pokoknya kita berupaya, tidak tahu nanti hasil seperti apa,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogya, Yunianto Dwi Sutono menyebutkan, Surat Edaran (SE) Wali Kota Yogya No.443/025/SE/2021 tentang Kebijkan Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat di Kota Yogya, telah disebarkan dan disosialisasikan kepada toko jejaring, swalayan hingga mall tanpa terkecuali.

Sehingga tidak ada alasan bagi pengusaha tidak tahu ada aturan baru yang diterapkan. Dalam edaran tersebut dijelaskan jika pembatasan jam operasional untuk toko swalayan, toko jejaring, pusat perbelanjaan/mall dan kawasan pertokoan sampai pukul 19.00 WIB selama PTKM.

Yunianto menjelaskan, operasional pasar rakyat juga alami pembatasan jam operasional kecuali Pasar Giwangan.

“Kecuali Pasar Giwangan, karena merupakan pasar induk yang mengakpmodir para suplier dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan pokok. Namun demikian tetap mengedepankan prokes ketat dan diwajibkan membawa surat keterangan sehat,” katanya. (Chaidir)

Comments

comments