Mantan Kuasa Hukum Djoko Tjandra Dituntut 2 Tahun penjara

Dokumentasi - Pengacara dari buronan kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra, Anita Kolopaking. (Foto : Antara)

Acuantoday.com, Jakarta- Mantan pengacara hukum Djoko Tjandra dituntut hukuman dua tahun penjara dalam perkara surat jalan palsu.

Tuntutan dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jumat (4/12) .

Anita terbukti melakukan tindak pidana terkait surat menyurat. Dalam perkara ini, ia terbukti menyuruh, melakukan, hingga memalsukan surat secara berlanjut sebagaimana tertuang dalam Pasal 263 ayat 1 KUHP jo Pasal 54 ayat 1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Selain itu, Anita juga terbukti memberikan pertolongan kepada kepada Djoko Tjandra meski statusnya merupakan tahanan atas putusan hakim sesuai Pasal 223 KUHP. Dalam hal ini, orang dimaksud adalah Djoko Tjandra saat sedang buron karena kasus cassie Bank Bali.

“Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Anita Dewi Anggraini Kolopaking selama dua tahun,” ungkap Jaksa Yeni di ruang sidang utama.

Tuntutan kepada Anita sudah termasuk potongan masa penahanan. Dalam perkara ini, Anita mendekam di Rutan Salemba cabang Bareskrim Polri. “Dikurangi selama terdakwa ditahan,” ujar Jaksa Yeni.

Kegiatan memalsukan surat bermula saat Djoko Tjandra yang ketika itu berstatus buronan kasus cassie Bank Bali berkenalan dengan Anita Kolopaking di kantor Exchange lantai 106, Kuala Lumpur, Malaysia. Pertemuan itu berlangsung pada medio November 2019.

Saat itu, Djoko Tjandra berniat memakai jasa Anita Kolopaking untuk menjadi pengacaranya. Lalu Djoko meminta bantuan pada Anita Kolopakaing untuk mengajukan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung Nomor 12PK/Pid.Sus/2009 tanggal 11 Juni 2009.

Selanjutnya, pada bulan April 2020, Anita yang sudah menjadi kuasa hukum Djoko Tjandra, mendaftarkan PK di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun, dia tidak menghadirkan kliennya selaku pihak pemohon.

Permohonan PK itu ditolak oleh pihak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Keputusan itu merujuk pada Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 1 tahun 2012.

Djoko Tjandra yang saat itu berada di luar negeri tidak ingin diketahui keberadaannya nyalinya menciut karena takut dieksekusi. Akhirnya, dia meminta Anita Kolopaking untuk mengatur kedatangannya ke Jakarta dengan mengenalkan sosok Tommy Sumadi.

Kemudian Tommy mengenalkan Anita Kolopaking dengan Brigjen Prasetijo Utomo. Diketahui, Brigjen Prasetijo satu itu sedang menjabat sebagai Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Bareskrim Polri.

Kepada Brigjen Prasetijo, Anita Kolopakaing berbincang soal kliennya yang hendak datang ke Ibu Kota. Selanjutnya, Brigjen Prasetijo mengurus keperluan kedatangan Djoko Tjandra dengan membuat surat jalan, surat keterangan kesehatan, dan surat-surat lain terkait dengan pemeriksaan virus Covid-19.(har)

Comments

comments