Masker Scuba Tak Dianjurkan, Pedagang: Saya Pasrah

Johan, pedagang masker scuba di pelataran Stasiun Cawang, Jakarta Timur. Ia mengeluh soal kabar larangan pemakaian masker scuba./Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibowo)

Acuantoday.com, Jakarta – Kabar soal masker scuba dan buff yang dinilai tidak efektif menahan laju virus, membuat mereka yang saban hari menjual masker itu jadi ketar-ketir.

Misal Johan (45 tahun), yang mengaku pasrah pendapatanya menurun. Sebab, keuntungan paling banyak di lapaknya berasal dari penjualan masker scuba. 

Sudah dua tahun belakangan ia bersandar hidup dengan berdagang masker di pelataran Stasiun Cawang, Jakarta Timur. Selama itu, calon penumpang kereta rel listrik (KRL) menjadi langganannya. 

Terlebih saat wabah pandemi, keuntungan yang ia raup bertambah 50 persen. Masker scuba dijualnya seharga Rp5 ribu per buah dan setiap harinya paling sedikit laku 30-35 buah. 

“Itu yang paling laris. Karena paling murah,” katanya kepada wartawan Acuantoday.com, Kamis (17/9). 

Selama musim pandemi, kata dia, penjualan masker bedah kalah laku karena harganya lebih mahal. Ia lantas lebih banyak belanja masker scuba.

“Gak kuat saya modalnya kalau belanja masker bedah,” tutur Johan. 

Kini omzet lapak, dirasa Johan bisa menurun, seiring aturan baru yang melarang penggunaan masker scuba dan buff bagi calon penumpang KRL. 

“Saya pasrah. Abis mau mengadu ke mana. Masa saya lapor ke Kemenkes supaya bilang masker scuba aman?” ia berkeluh. 

Seperti diberitakan sebelumnya, tipe masker scuba dinilai tak ampuh menyaring droplet karena berbahan tipis dan mempunyai pori-pori lebih besar. Epidemiolog Tri Yunis Miko bahkan menyebut seseorang yang memakai masker tersebut sama saja tak bermasker. 

Masker berbahan dasar kain seperti scuba hanya bisa menangkap 50 persen dari 0.02 partikel mikron. Namun, ketika kainnya digabung, tingkat serapannya mencapai 97 persen, sama seperti daya serap masker bedah. 

Kendati daya serapnya menyerupai masker bedah, Tri berpendapat masker kain memiliki daya tahan singkat, yakni 4 jam sekali mesti diganti masker baru. Selain itu, masker berbahan dua lapis kain dinilai tak efektif, karena ketebelannya menganggu kenyamanan pengguna. (rwo)

Comments

comments