Mendag Lutfi Siap Mundur Jika Salah

Perpisahan Mendag Menteri Perdagangan Muhamad Lutfi, menyampaikan sambutan perpisahan di depan sejumlah pegawai Kementerian Perdagangan di Jakarta, Senin (13/10). Muhammad Lutfi yang menjabat sebagai Menteri Perdagangan sejak 14 Februari 2014 berencana untuk berhenti dari tugas negara pasca-berakhirnya Kabinet Indonesia Bersatu II./Foto: Antara

Acuantoday.com, Jakarta- Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi berjanji siap melepas jabatannya jika ternyata kebijakan impor beras terbukti salah.

Penegasan disampaikan Lutfi menanggapi kritik kebijakan impor beras yang direncanakan tahun ini.

“Saya mesti memikirkan yang tidak terpikirkan. Saya mesti mengambil keputusan yang tidak populer. Kalau memang saya salah, saya siap berhenti, tidak ada masalah,” ucap Lutfi dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI pada Senin (22/3/2021).

Lutfi mengatakan opsi impor untuk memenuhi cadangan beras Bulog mencapai stok 1 juta-1,5 juta ton sudah diputuskan sebelum dirinya menjadi Menteri Perdagangan pada Desember 2020 lalu.

Saat itu, sudah ada notulen rapat di tingkat kabinet yang meminta Bulog di tahun ini menambah cadangan atau iron stock sebanyak 500.000 ton. Pada notulen disebutkan pengadaan beras bisa dipenuhi dari impor.

“Jadi itu sudah ada sebelum saya datang (menjadi Mendag). Maka waktu saya datang, saya melakukan penghitungan jumlahnya (stok beras pemerintah di Bulog),” ujarnya.

Dalam hitungannya, stok beras cadangan Bulog saat ini hanya sekitar 800.000 ton. Dari jumlah itu, sebanyak 270.000-300.000 ton dari stok tersebut merupakan beras hasil impor tahun 2018 lalu.

Adapun beras sisa impor itu berpotensi mengalami penurunan mutu. Artinya, tanpa menghitung beras impor maka stok beras Bulog hanya berkisar 500.000 ton.

Di sisi lain, penyerapan gabah oleh Bulog belum optimal pada masa panen raya. Hingga saat ini serapan gabah setara beras baru mencapai 85.000 ton dari perkiraan harusnya mendekati 500.000 ton.

“Ini menyebabkan stok Bulog pada saat ini jadi yang paling rendah dalam sejarah,” ucap Lutfi.

Penyerapan yang rendah itu dikarenakan aturan teknis yang mesti dipatuhi Bulog dalam membeli gabah petani. Menurut Permendag Nomor 24 Tahun 2020, gabah harus dengan kadar air maksimal 25 persen dan seharga Rp 4.200 per kilogram.

Maka hanya gabah yang memenuhi syarat yang bisa diserap oleh Bulog. Sementara dengan curah hujan yang tinggi saat ini kualitas beras petani rata-rata memiliki kadar berlebih.(har)

Comments

comments