Menggali Bakat Anak: Orangtua Jangan Terjebak Obsesi Pribadi

Ilustrasi anak belajar (Shutterstock)

Acuantoday.com—  Pandemi Covid 19 membuat seluruh aktivitas terhenti, termasuk aktivitas anak-anak mulai dari sekolah hingga kegiatan luar sekolah. Menurut Psikolog Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, M.Psi, masa pandemi justru merupakan masa terbaik untuk menemukan dan merawat bakat serta minat anak-anak.

“Mencari bakat anak adalah proses yang panjang. Dan masa pandemi seperti ini sebetulnya adalah waktu yang tepat untuk menemukan bakat anak-anak kita, pasalnya saat pandemi kita bisa mengamati anak dengan lebih leluasa,” kata Vera melalui siaran virtual baru-baru ini.

Meski demikian, Vera mengingatkan agar para orangtua ada sejumlah rambu-rambu dalam proses menemukan bakat anak, di antaranya adalah berhati-hati dalam menentukan bakat anak agar tak terjebak pada obsesi pribadi.

“Hati-hati orangtua jangan rancu dengan obsesi pribadi. Misalnya ayah dan ibunya suka bola, lalu kita tentukan anaknya agar juga suka main sepak bola,” kata Vera.

Langkah pertama yang bisa dilakukan orangtua adalah mengamati minat anak-anak. “Sembari kita memperluas wawasan kita. Jangan sampai kalau anak punya minat pada sesuatu sudah kita matiin duluan karena kurangnya wawasan kita. Orang tua harus open minded,” kata Vera.

Vera juga mengingatkan agar orang tua tidak terlalu terburu-buru menentukan bakat anak-anak pasalnya anak-anak senang mencoba segala hal dan masih dalam fase eksplorasi.

“Lihat dulu seberapa konsisten anak menyukai sesuatu. Biasanya bisa dilihat saat anak usia tiga tahun, dikenalin dulu dengan berbagai hal. Kalau sudah usia lima, enam atau tujuh konsisten menyukai sesuatu, orangtua kemudian bisa mengarahkan untuk mendukung bakat tersebut,” kata Vera mengingatkan agar orang tua juga tidak memberi beban kepada anak-anak dengan ekspektasi yang berlebihan.

Tekanan
Bambang Pamungkas, mantan pesepakbola profesional yang kini jadi manajer klub sepakbola Persija Jakarta menuturkan saat dia masih kecil dia sempat merasa tertekan oleh orangtuanya, khususnya sang ayah.

Menurutnya, tekanan membuat Bepe kecil tidak bisa berkembang dan mengeksplorasi bakatnya.

“Dulu ayah saya adalah mantan pemain bola dan juga seorang pelatih bola. Jadi tiap dia datang menonton pertandingan itu rasanya saya jadi blank karena tiap pulang tanding dia selalu jadi kritikus saya nomor satu. Harusnya gini harusnya gitu,” kata Bambang.

Dia bahkan terpaksa memberi tahu sang ayah agar tak muncul saat Bambang berlaga di lapangan hijau karena bisa membuyarkan konsentrasinya. “Jadi ayah saya dulu kalau nonton saya bawa payung, kalau kelihatan sama saya dia buru-buru menutupi diri pakai payung.”

Berkaca dari kisahnya sewaktu kecil, Bambang menyarankan agar bakat anak berkembang dengan baik, sebaiknya orangtua mengarahkan anak tanpa memberikan tekanan.

“Orang tua itu sebaiknya berperan jadi yang mengarahkan dan benteng. Maksudnya jadi benteng adalah membentengi anak bahwa yang baik didukung dan yang jelek dikasih tahu, jangan dilakukan,” katanya.

Selain didukung dalam mengasah bakat dan minat, anak-anak sebaiknya juga diberi pendidikan karakter yang baik supaya kelak tumbuh menjadi pribadi yang unggul.

Deputi 3 Bidang Pembudayaan Olahraga dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Raden Isnanta mengatakan sangat penting mengasah bakat anak sejak dini, selain memberi pondasi karakter yang baik bagi anak-anak.

“Sejak usia dini anak-anak harus sudah punya tekad besar dan konsisten. Selain itu harus punya karakter yang baik. Karakter ini enggak akan bisa diberikan oleh pelatih manapun, tapi itu ditumbuhkan oleh orang tua dan lingkungan,” kata Isnanta.

Di masa pandemi, pembinaan bakat dan karakter anak-anak, kata Isnanta tak boleh berhenti, salah satunya bisa dilakukan melalui teknologi dengan temu virtual.***nin/ant

 

Comments

comments