Menikmati Papeda dan Kopi Susu ‘Mama Kota’ di Alenia Papua Coffee & Kitchen

ikan bakar manokwari dan pisang goreng gula merah---foto instagram Alenia Papua Coffee & Kitchen

Acuantoday.com— Papua bukan hanya kaya dengan budaya tapi juga ragam kuliner khas. Sayangnya kuliner  khas tanah Cenderawasih itu, masih sulit dijumpai di luar daerah. Bahkan di Jakarta pun yang dikenal sebagai pusat dari berbagai kuliner Tanah Air bahkan luar negeri, masih sulit menemukan tempat menikmati aneka kuliner khas Papua.

Kalaupun dapat, resto atau warung makan itu tidak mengkhususkan diri pada kuliner khas Papua, melainkan dicampur dengan menu lain.

Tapi jangan khawatir. Bagi mereka yang penasaran seperti apa sih kuliner khas Papua itu, bisa datang ke Alenia Papua Coffee & Kitchen di bilangan Kemang Raya, Jakarta Selatan. Di sana kita bisa mencicipi aneka  makanan khas termasuk camilannya.

Penasaran ingin tahu siapa pemilik resto Papua ini? Mereka adalah pasangan artis Ale Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Bagi mereka yang gemar nonton sinetron atau film tahun 90-an, pasti mengenal keduanya.

Pasangan artis Ale Sihasale dan Nia Zulkarnaen pemilik Alenia Papua Coffee & Kitchen—foto instagram alenia

Ale yang besar di Papua, bersama istrinya Nia, terpinspirasi membangun resto yang khusus menyajikan kuliner khas masyarakat Papua mulai dari aneka makanan hingga coffee Papua yang sudah dikenal di mancanegara.

“Alasan mendirikan resto ini, pertama adalah karena kecintaan kami pada Papua. Kedua, karena ingin mengenalkan berbagai hal tentang Papua bahwa ternyata Papua itu bukan hanya luar biasa indah tapi juga memiliki banyak kuliner yang luar biasa,” ujar Nia.

Udang Sorong saos Alenia–instagram alenia

Untuk mempertahankan cita rasa kulinernya, sebagian besar bahan makanan didatangkan langsung dari Papua, seperti sagu dan ikan yang langsung didatangkan dari Biak, beras dari Merauke, dll. Sementara aneka kopi pun didatangkan dari berbagai daerah penghasil kopi di Papua.

Resto yang didirikan sejak 2015 ini, ternyata cukup menarik minat para pemburu kuliner lezat. Awalnya banyak yang menasaran namun lalu kembali dan kembali lagi, bahkan menyebarkan kepada sesama temannya. Tak heran resto ini selalu ramai pengunjung.

Makanan khas Papua, Papeda–foto instagram alenia

Ada banyak menu favorit pengunjung di Alenia, di antaranya adalah kopi khas Papua dan makanan tradisional papeda. “Salah satu yang digemari pengunjung adalah kopi susu ‘mama kota’. Kenapa namanya ‘mama kota’? Itu karena kalau anak-anak papua mau ke Jakarta, mereka selalu bilang ‘Kita mau ke mama kota (Ibukota Jakarta) dulu’. Karena itu kopi ini dinamakan kopi mama kota,” ujar artis ngetop era 80-90-an ini.

CARA MENIKMATI PAPEDA

Sedang ‘makanan berat’ yang digemari konsumen adalah papeda yang merupakan makanan tradisional masyarakat Papua. Untuk menikmati papeda, ada cara tersendiri.

“Pertama adalah menungkan kuah kuning di wadah agar ketika sagu dituangkan tidak lengket di piring. Setelah itu barulah mengambil papedanya dengan cara diputar dengan gata-gata, semacam sumpit. Kemudian ditaruh ikannya yang didatangkan langsung dari biak,” jelas Nia. “Bagi yang suka jeruk maka bisa ditambahkan sedikit jeruk. Atau yang suka pedas, bisa ditambah dengan rica buah,” ujar pemeran film ‘Seputih Cinta Melati’, ini.

Kopi Papua–instagram alenia

Soal bagaimana cara makannya, menurut Nia, ada macam-macam. Banyak yang makan tanpa dikunyah alias langsung menyeruput. Baik menyeruput di sendok atau langsung menyeruput di mangkuknya. “Yang membuat enak itu adalah kuah kuningnya,” tambah Ale, aktor yang juga sutradara itu.

Untuk dessert, lanjut Nia, yang favorit di antaranya adalah bubur sagu kacang merah dan puding sagu kenari. “Dua-dua nya adalah dessert khas Alenia. Ditempat lain tidak ada,” tambah Nia. Bubur sagu kacang merah terbuat dari sagu, santan dan kacang merah.

Keladi tumbuk sambal roa—foto instagram alenia

Santan baru diguyurkan ke bubur ketika akan dimakan. Sedang puding sagu kenari merupakan modifikasi makanan khas Papua.

“Makanan aslinya  (sagu kenari) adalah dengan santan. Namun kita modifikasi dengan fla puding,” ucapnya.  Agar makanan itu terasa ‘maknyus’ maka saat akan dimakan barulah santan (bubur sagu)  maupun fla (puding sagu kenari)  disiramkan. “Jadi kita menyajikannya secara terpisah. Begitu juga kalau mau di take away maka baik santan atau fla dibungkus terpisah,” jelas Nia.***dian

Comments

comments