Menjajal Bus Antarkota di Musim Pandemi

Sepi penumpang bus Bandung-Jakarta. Ada aturan jaga jarak dalam bus./Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibowo)

DALAM perjalanan menuju terminal, saya membayangkan bakal menghadapi serangkaian protokol kesehatan sebelum dibolehkan masuk ke dalam bus. Maklum, salah satu tempat penularan Covid-19 terjadi dalam moda transportasi massal. 

Namun yang terjadi justru sebaliknya, petugas terminal bahkan tak menegur penumpang yang tak bermasker. Mereka bebas melenggang leluasa ke dalam bus tanpa pemeriksaan suhu badan. 

Sarana penunjang  protokol kesehatan di dalam bus, tampak tak memadai. Hand sanitizer yang semestinya ada, nyatanya nihil. 

Hanya satu protokol kesehatan yang berjalan: jaga jarak. Penumpang diatur sedemikian rupa hingga tak berdekatan. Satu deret kursi (kapasitas dua orang) hanya boleh berisi seorang.

Meski ada pengaturan jaga jarak fisik, tapi toh, sesekali ada saja penumpang yang membandel. Alih-alih bakal ditegur petugas, mereka pun dibiarkan asyik mengobrol dalam jarak dekat—satu baris bangku. 

Bus Bandung-Jakarta yang saya tumpangi itu, sedianya paling banyak hanya menampung 23 penumpang saat penerapan PSBB. Tapi pada sore itu (15/9), bangku yang terisi hanya delapan.

Kebanyakan dari mereka bepergian untuk urusan bisnis. Uus (30), misalnya, seminggu sekali mengunjungi bengkel mobilnya yang berlokasi di bilangan Sukajadi, Bandung. 

Ia sudah tak heran dengan longgarnya protokol kesehatan dalam bus. Terakhir kali ia dicek suhu badan oleh petugas terminal, ketika awal-awal Terminal Leuwipanjang dibuka lagi pada 12 Juni lalu. 

“Waktu itu, calon penumpang yang ketahuan enggak pakai masker dilarang naik. Terus yang ketahuan suhu badannya di atas 37 derajat celcius juga gak boleh, tapi kok sekarang malah longgar ya,” ucapnya. 

Padahal, tren penularan virus corona di dalam moda transportasi umum masih terjadi. Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengatakan dari 944 pasien yang dirawat di Rumah Sakit Darurat corona Wisma Atlet Kemayoran per awal September ini, 62 persen di antaranya diduga terpapar akibat memakai transportasi publik.

Temuan kasus positif virus corona pun sempat ada di Terminal Leuwipanjang. Pada pengujung April lalu, ditemukan satu penumpang dan satu sopir bus trayek Bandung-Tanjung Priok positif corona. Mereka sebelumnya terlacak dengan metode rapid test, sebelum akhirnya menjalani tes swab di rumah sakit. (Rohman Wibowo)

Comments

comments