Menkes Budi Genjot Testing dan Tracing Covid, Satu Positif 30 Orang Harus Dites

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat saat menggelar rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Rabu (13/1)./Foto: Acuantoday.com (Rahmat)

Acuantoday.com, Jakarta – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengakui telah mendengar masukan dari para epidemolog untuk menekan penyebaran Covid-19 yang terus bertambah.

Dari masukan epidemolog itu, Menkes Budi mengaku akan menggenjot testing dengan metode swab antigen terhadap 15-30 orang kontak erat per kasus aktif dalam waktu 72 jam.

“Soal testing angka testing landasan masukan epidemiolog, testing sebaiknya dilakukan 15 kontak erat sampai 30 kontak erat per kasus aktif dan bisa dikejar dalam tempo 72 jam,” kata Menkes saat menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR, Selasa (9/2).

Dijelaskan Menkes, cara ini mampu mendeteksi dengan cepat siapa saja yang tertular Covid-19. Setelah mengetahui, lanjut Menkes, para pelaku kontak erat itu langsung diisolasi untuk menekan laju penularan.

Dengan cara ini, berdampak pada peningkatan angka kasus aktif Covid-19 karena testing dan tracing yang jauh lebih masif, sehingga kondisi rill penyebaran Covid-19 di masyarakat bisa tergambar dengan jelas. Sehingga pemerintah bisa menyusun strategi penanggulangan yang benar.

“Angka testing kita asumsikan orang yang kena kasus aktif 1,7 juta, ini masukan epidemiolog, dari 1,7 juta kita kalikan 15 dan memang agak masih gelondongan,” jelasnya.

Dikatakan mantan Wakil Menteri BUMN ini, angka-angka ini sudah sesuai dengan aturan tracing dari WHO, di mana harus memiliki 30 tracer per 100 ribu penduduk, hingga Indonesia membutuhkan 80 ribu tracer jika disesuaikan dengan jumlah penduduk.

“Sekarang kita masih punya 5 ribuan. Karena mesti cepat kita cari cara paling cepat rekrut orang-orang yang kenal daerahnya dan bisa cepat disiplin,” ucapnya.

Menurutnya, jika melibatkan babinsa babinkamtimnas yang punya sekitar 60–80 ribu anggota hampir di seluruh desa. “Lalu, puskesmas tetap komando surveilans dan ada petugas koordinasi,” sambungnya.

Lebih jauh Menkes, setelah dilakukan tes uji kepada 15 atau 30 orang, dan setelah diketahui siapa saja yang melakukan kontak erat dengan orang pertama, maka akan dites antigen.

“Kalau positif, terkonfirmasi, kenapa pakai antigen? Ini sudah lulus WHO. Ada dua yaitu PCR golden standar, dan satu lagi deteksi medis bahwa dia positif yakni antigen,” paparnya.

Dua alat ini, sebut Menkes Budi sudah di-endorse WHO. Swab antigen bisa lebih cepat dan bisa langsung dititiknya karena butuh kecepatan untuk kurangi laju penularan. (rht)

Comments

comments