Menkeu: Reputasi Indonesia Baik

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR dengan agenda pembahasan Laporan Keuangan Kementerian Keuangan pada APBN 2019 di Ruang Rapat Komisi XI DPR pada Rabu (26/8/2020). ANTARA/HO-Kemenkeu/pri.

Acuantoday.com, Jakarta―Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Indonesia memiliki reputasi baik sehingga dapat mengakses pasar.

Pernyataan ini terkait serapan surat berharga negara (SBN) untuk membiayaan Covid-19 yang sempat dikhawatirkan karena kepanikan pada April dan Juni 2020 lalu.

Menurut Menkeu, meski memasuki pasar keuangan saat terjadi turbulensi akibat pandemi Covid-19, namun SBN pemerintah masih diserap investor karena menawarkan bunga yang menarik.

“Meski dalam situasi seperti itu Indonesia dengan reputasi yang baik,” katanya dalam CNBC Debate on Global Economy secara virtual di Jakarta, JUmat (16/10) dini hari.

Adapun imbal hasil SBN tenor 10 tahun adalah sebesar 6,9 persen per 1 Oktober 2020.

Menkeu mengatakan, saat ini pemerintah juga bekerja sama dengan pelaku pasar keuangan dalam negeri dan juga Bank Indonesia (BI) .

Keterlibatan bank sentral dalam membeli SBN pemerintah di pasar perdana karena membutuhkan pembiayaan yang luar biasa besar dan dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya atau unprecedented.

“BI juga bisa membeli SBN pemerintah di pasar perdana tanpa menciptakan kesan bahwa kami akan mengancam independensi BI. Ini unprecedented, kami butuh banyak komunikasi, dalam waktu yang sama mendesain kebijakan apa yang tepat,” katanya.

Meski begitu, Menkeu memastikan kebijakan itu dilakukan secara hati-hati dan tidak sembarangan serta transparan.

Krisis pandemi COVID-19 membuat pemerintah memperlebar defisit fiskal APBN 2020 yang sebelumnya mencapai 1,7 persen kini menjadi 6,34 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Untuk penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional, pemerintah mengalokasikan Rp695,2 triliun di antaranya untuk kesehatan, perlindungan sosial, dukungan UMKM hingga insentif usaha.

“Kami sangat prudent dan hati-hati menggunakan pilihan dan kebijakan dan instrumen. Ini sangat penting ketika kami harus menstabilkan pasar, ketika kami harus memiliki utang berkelanjutan dan juga agar kami mampu menyelamatkan masyarakat dan mata pencahariannya,” imbuhnya. (ahm)

Comments

comments