Menko Marves Bidik Ekspor ke  Tiongkok 

Ilustrasi-Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan./Foto: Istimewa

Acuantoday.com, Jakarta – Keputusan pemerintah Tiongkok yang akan memberikan stimulus untuk mendongkrak ekonomi dalam negerinya, disambar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Luhut mengaku tengah membidik potensi ekspor ke China pada tahun depan menyusul rencana negara tirai bambu itu yang akan dana stimulus hingga 500 miliar dolar AS.

“Ini peluang ekspor kita. Makanya kita genjot sekarang ini untuk memperbaiki produk kita yang bisa diekspor ke dia (China),” katanya dalam diskusi Sarasehan 100 Ekonom yang digelar secara daring, Selasa (15/9).

Upaya memperbaiki produk yang dimaksud Luhut melalui perbaikan hilir ​​​​​yang penting untuk menciptakan nilai tambah dalam transformasi ekonomi Indonesia.

“Hilirisasi ini punya peran penting karena memberi nilai tambah yang sangat bagus, mulai dari pajak, pendidikan, hingga potensi UMKM. Kita kan tidak mau terus-terusan mengandalkan komoditas,” katanya.

Luhut mengatakan pemerintah pun menargetkan untuk bisa mendorong ekspor besi dan baja menjadi sekitar 13-35 juta dolar AS pada tahun depan. Sementara pada tahun ini, total ekspor besi dan baja ditargetkan mencapai sekitar 10 juta dolar AS.

“Target kita tadinya tahun ini 13 miliar dolar AS tapi karena Covid terjadi juga penundaan. Tahun depan, kami sudah targetkan 13-15 miliar dolar AS dan pada tahun 2004 itu akan 30 miliar dolar AS. Itu belum termasuk lithium battery,” katanya.

Meski akan mendongkrak ekspor, Luhut menambahkan volumenya akan terlebih dahulu mengutamakan kebutuhan dalam negeri.

Menurut Luhut, pemerintah saat ini terus mendorong hilirisasi untuk menambah nilai tambah ekspor. Hal itu dilakukan agar Indonesia tidak lagi mengekspor material mentah yang tidak memiliki nilai tambah.

“Kami membandingkan dari tahun ke tahun membaik, value added dari nikel ore (yang diolah) jauh lebih tinggi dari 40-50 tahun kendaraan Jepang roda empat atau roda dua yang ada di Indonesia. Ini fakta yang ada sekarang ini,” katanya.

Dalam catatan Kemenko Maritim dan Investasi, selama periode 2014-2019, ekspor besi dan baja di luar kendaraan telah meningkat dari angka 1,1 miliar dolar AS menjadi 7,4 miliar dolar AS.

Pengolahan bijih nikel ke stainless steel slab juga memberikan nilai tambah secara signifikan. Dari 612 juta dolar AS menjadi 6,24 miliar dolar AS, atau meningkat 10 kali lipat. (adi)

Comments

comments