Menko Marves Klaim Indonesia-Jepang Telah Berperan Tangani Isu Lingkungan

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam Pertemuan Bilateral Tingkat Menteri dengan Menteri Lingkungan Jepang Koizumi Shinjiro secara virtual, Kamis (18/2/2021)./Foto: Antara

Acuantoday.com, Jakarta―Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Indonesia dan Jepang telah berperan dalam kolaborasi menangani isu lingkungan.

Hal itu disampaikan Menko Luhut dalam Pertemuan Bilateral Tingkat Menteri dengan Menteri Lingkungan Jepang Koizumi Shinjiro dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar secara virtual, Kamis (18/2).

“Kerja sama dengan pihak Jepang sudah kita laksanakan saat pertemuan G20 di Osaka, Jepang, pada tahun 2019,” kata Menko Luhut dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (19/2).

Sejak saat itulah, kata Luhut, Indonesia terus berkomunikasi dengan Jepang untuk menangani isu lingkungan di Indonesia secara lebih intensif dengan Jepang.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas berbagai kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jepang, khususnya, dalam hal pengelolaan sampah, penanganan sampah laut, penanganan pencemaran air di Sungai Citarum, dan isu perubahan iklim.

Indonesia dan Jepang sendiri sudah bekerja sama untuk menangani permasalahan mengenai lingkungan, terutama di bidang pencemaran lingkungan dan penanganan sampah laut proses yang sudah mulai terbangun di tahun 2019.

Menko Luhut menjelaskan, usaha Pemerintah Indonesia menangani isu lingkungan seperti penanganan sampah laut telah berjalan dan dibuktikan dengan menerbitkan kebijakan.

Kebijakan ini, lanjut dia, merupakan Peraturan Presiden (PP) Nomor 83 Tahun 2018 yang melibatkan 16 kementerian atau lembaga terkait, untuk menyinergikan kegiatan yang berkontribusi pada penanganan sampah laut tersebut. 

“Ditargetkan pada tahun 2025, penanganan sampah di laut sudah mencapai angka 70 persen,” tambah Menko Luhut.

Lantaran pengelolaan sampah di laut yang seharusnya dilakukan secara sinergi mulai dari hulu ke hilir, maka diperlukan penanganan pencemaran di Daerah Aliran Sungai (DAS) karena limbah. 

Hal ini, menurut Luhut, juga menjadi salah satu solusi adanya proses penanganan sampah di laut yang sinergi dari hulu ke hilir. Salah satu contohnya adalah penanganan pencemaran di DAS Sungai Citarum.

“Kami sudah melakukan berbagai kebijakan dan menjalankan berbagai program mulai dari 2018 sampai tahun 2020. Kami telah berhasil mengurangi kebocoran sampah ke laut dari sungai sebesar 15 persen berkat program seperti penanganan DAS di kawasan Sungai Citarum,” jelas Menko Luhut. (mad)

Comments

comments