Menteri Sosial Risma Dialog Singkat dengan Disabilitas Netra Bandung

Acuantoday.com, Bandung– Menteri Sosial Tri Rismaharini menerima perwakilan mahasiswa dan pelajar disabilitas netra dari Forum Akademisi Luar Biasa (FALB) di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna Bandung, pada Kamis (18/3/2021) siang.

Dalam pertemuan yang berlangsung singkat, perwakilan FALB meminta kepada Menteri Sosial Tri Rismaharini untuk memperhatikan keberlanjutan pendidikan para penyandang disablitas netra pasca berubahnya status Panti Wyata Guna menjadi BRSPDSN.

Sejak Status Panti Wyata Guna berubah menjadi BRSPDSN Wyata Guna melalui Peraturan Menteri Sosial no. 18 tahun 2018, maka penghuni panti tidak bisa lagi tinggal di panti. Fungsi panti tidak lagi menjadi asrama, tetapi menjadi pusat pelatihan dan pembelajaran.

Sofwan perwakilan FALB dan Rianto, rekannya yang berhasil menemui Menteri Risma di sela-sela kunjungi Mensos Risma ke Wyata Guna. Awalnya, rencana FALB menemui Risma dihalang-halangi oleh petugas dan karyawan dari Wyata Guna. Namun berkat kegigihannya, beberapa perwakilan FALB dapat menembus barikade karyawan Wyata yang menghalang-halangi mereka untuk menemui Mensos Risma.

Begitu berada di hadapan Mensos Risma, Sofwan, perwakilan FALB menyampaikan aspirasi teman-temannya agar bisa menyelesaikan pendidikannya dengan tetap dapat tinggal di Wyata Guna.

“Bu Risma, kami pengen adik-adik saya bisa sekolah dan kuliah sampai beres dengan tenang. Bagi teman-teman yang masuk rehabilitasi sosial, untuk ikut pelatihan shiatsu dan lain-lain dimohon agar masa belajarnya tidak 6 bulan, tapi bisa 2 tahun,” kata Sofwan di hadapan teman-temannya.

Lalu Sofwan memberikan surat terbuka kepada Mensos Risma dan diterima dengan baik oleh Mensos. Lalu Risma mengatakan bahwa pihaknya akan memperhatikan pendidikan disabilitas. Mengenai perubahan status panti menjadi BRSPDSN melalui Permensos no.18 tahun 2018, saat ini sudah diganti oleh Permensos no.16 tahun 2020.

“Dalam permensos yang baru, masa belajar atau pelatihan yang semula 6 bulan diganti menjadi berkelanjutan. Jadi kalau pelatihannya belum selesai maka masa belajarnya bisa diperpanjang,” Risma menjelaskan.

Mendapat respon positif dari Mensos Risma, FALB merasa lega dan optimis bahwa polemik yang dihadapi disabilitas netra yang sedang sekolah maupun kuliah dapat diatasi.

“Besar harapan kami dialog singkat dengan Ibu Risma, merupakan langkah awal sebagai jalan keluar atas permasalahan yang selama ini terjadi hingga berlarut-larut,” kata Sofwan.

Polemik Wyata Guna berawal dari “pengusiran” para siswa dan mahasiswa yang tinggal di panti Wyata Guna pada 2019 silam. Mereka diminta keluar dari Wyata Guna karena status panti telah berubah menjadi BRSPDSN.

Akibatnya para siswa dan mahasiswa yang tergabung dalam FALB ini melakukan aksi-aksi tidur di trotoar depan Panti Wyata Guna hingga aksi-aksi demo menentang pengusiran mereka dari Wyata Guna.

Saat ini, mereka yang statusnya masih sekolah dan kuliah diberi kesempatan untuk tinggal di Wyata Guna hingga menamatkan sekolah atau kuliahnya.

Menurut Sofwan, hal itu tidak menyelesaikan persoalan, sebab mayoritas warga disabilitas berasal dari keluarga tidak mampu. Bisa mengakses pendidikan saja sudah luar biasa.

Apalagi mayoritas mereka berasal dari kampung dan datang ke kota untuk sekolah. Sehingga mereka berharap ada asrama yang disediakan oleh pemerintah untuk mereka tinggal sementara selama sekolah, agar dekat ke sekolah atau kampus mereka.(har)

Comments

comments