Nasib “Pocong” Asia-Afrika Bandung yang Keok Diserang Covid

Para cosplayer di Kota Bandung ikut terdampak atas merebaknya virus corona dan penerapan PSBB. Pendapatan mereka turun setengah dari hari normal. Foto: Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibowo)

ACIL (bukan nama sebenarnya) mengambil bedak dan lekas menaburi ke seluruh wajahnya. Selagi spon bedak mengusap, ia sesekali memandang ke langit mendung dengan wajah was-was. 

Rabu (16/9) sore  itu, hujan rintik-rintik membasahi Jalan Asia-Afrika Bandung. Jalan ini sejak lama sudah menjadi ikon Kota Kembang. Banyak wisatawan bertandang ke ruas jalan yang penuh histori itu hanya sekadar untuk menikmati aksi para cosplayer. Di situ, Acil mengambil peran.

Sudah 1,5 tahun, Acil melakoni sosok horor pocong. Tangannya melambai-lambai ke pengunjung, mengajak siapa saja yang lewat untuk berswafoto.  Sebab, hanya dengan cara itulah, Acil mendapat rupiah. 

Sebagai pocong, Acil takut juga dengan cuaca yang sore itu tidak bersahabat. Yang terbayang hanya satu, tidak ada orang yang ingin berswafoto. Kalau begitu, bisa-bisa ia pulang dengan kantong tipis.

Tapi hujan bukan satu-satunya penghambat. Kini musuhnya bertambah satu: virus mematikan bernama corona. 

Pandemi ini mengharuskan dirinya berdiam di rumah, setidaknya saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tengah giat-giatnya pada periode April hingga pengujung Mei. 

Selama itu, ia terpaksa banting setir jadi kuli bangunan demi menghidupi istri dan dua anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar. 

Kala PSBB mulai longgar pada awal Juni, Acil balik ngosplay. Tapi itu pun tak sekonyong-konyong membuatnya riang. Sepinya pengunjung karena pandemi membuat pendapatannya melorot.

“Turun lebih dari setengah dari biasa,” ia berkeluh. 

Padahal, ia berusaha sebisa mungkin menggaet pengunjung untuk sudi berfoto. Tapi aturan protokol kesehatan membuat langkahnya terbatas. Pengunjung lebih memilih cara aman melihat dan memotret dari jarak aman. Alhasil, wadah yang berada di depannya pun tak kunjung penuh berisi rupiah.  

Pendapatan yang ia beroleh selama pandemi sedari siang hingga malam,dirasa jauh dari kata cukup. Terlebih kini mesti keluar biaya tambahan untuk membeli kuota internet kedua anaknya yang mengikuti pembelajaran daring. 

Getir tak berhenti di situ. “Kerasnya” usaha pemerintah dalam mengamani Jalan Asia Afrika dari kerumunan, membuat dirinya dan kawannya mesti main kuncing-kucingan dengan petugas Satpol PP. 

“Kalau ada mereka, kita lari ke belakang. Kalau gak gitu ngeri ditangkap. Soalnya di sini diatur gak boleh banyak yang ngosplay,” keluhnya. (Rohman Wibowo)

Comments

comments