Berita Terkini

Profil Wanda Hara, Pria Bercadar yang Ikut Kajian Ustadz Hanan Attaki

Kamu mungkin pernah mendengar nama Wanda Hari. Ya, pria ini memang berkecimpung di industri hiburan bersama artis Tanah Air, terutama soal urusan fashion stylist...

Demo Sempat Ricuh! Inilah 12 Tuntutan BEM SI untuk Jokowi di Akhir Masa Kepemimpinannya

Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melakukan demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat pada Senin (22/7/2024).Dalam aksi demo tersebut BEM SI menyikapi...

Rangkuman Film Hijack 1971, yang Diangkat dari Kisah Nyata Pembajakan Pesawat Korea Selatan

Setelah sukses dirilis di Korea Selatan pada 21 Juni 2024, film Hijack 1971 akhirnya resmi tayang di Indonesia pada 17 Juli 2024. Film debut...

Joe Biden Mundur dari Pilpres AS dan Digantikan dengan Sosok Ini, Simak Isi Surat Pengunduran Dirinya

Presiden petahana Joe Biden putuskan untuk mundur dari ajang pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) 2024 yang akan diselenggarakan pada tanggal 5 November 2024.Dari keputusannya...

Download Lagu MP3 Gratis: Tips dan Trik Terbaik

Berbagai situs dan aplikasi kini menawarkan akses ke jutaan lagu dari seluruh dunia, memungkinkan pecinta musik untuk menambah koleksi lagu dengan cara download lagu...
HomeNewsPertama dalam 24 Tahun Kim Jong Un dan Putin Bertemu di Korut,...

Pertama dalam 24 Tahun Kim Jong Un dan Putin Bertemu di Korut, Ada Apa?

Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Kim Jong Un di Korea Utara (Korut) pada Selada (18/6/2024). Kunjungan tersebut menjadi yang pertama kalinya bagi Presiden Rusia dalam 24 tahun terakhir. Pertemuan ini pun menandakan makna penting di tengah perubahan situasi geopolitik saat ini.

Alasan Korea Utara dan Rusia berteman

Saat resmi menjadi negara setelah Perang Dunia Kedua, Korea Utara dan Uni Soviet menjadi teman dekat. Berakhirnya Uni Soviet pada tahun 1991 menyebabkan Korut tidak lagi mendapatkan dana utama, sehingga terjadi tragedi kelaparan pada dekade tersebut.

Tidak lama setelah menjadi presiden, Putin berupaya memperbaiki hubungan dengan mengunjungi Pyongyang untuk bertemu Kim Jong Il yang merupakan pemimpin Korut saat itu sekaligus ayah Kim Jong Un.

Namun, di pertengahan tahun 2000-an, Rusia yang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB mendukung sanksi terhadap Korut karena program nuklirnya.

Ketika Kim Jong Un menggantikan ayahnya pada tahun 2011, ia awalnya berupaya untuk mencapai keseimbangan dengan China dan Rusia. Namun, Rusia dan Korut kini semakin mesra. Moskow juga menghapus sebagian besar utang Korut pada 2012. Pada 2019 Kim juga pernah melawat ke Vladivostok dekat perbatasan untuk berjumpa Putin.

Mengapa baru berkunjung sekarang?

Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022, Moskow berusaha mencari teman karena semakin terisolasi. Tahun lalu, Kim dan Putin bertemu di pelabuhan antariksa Rusia.

Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Ukraina mengklaim Korut mengirim senjata ke Rusia untuk perang di Ukraina, hal ini melanggar serangkaian sanksi PBB. Korut disebut-sebut mendapatkan imbalan berupa bantuan teknis untuk program satelitnya.

Kim Jong Un dapat keuntungan apa?

Seorang profesor di Universitas Ewha, Seol, Leif Eric Easley, mengatakan kunjungan ini menjadi sebuah kemenangan bagi Kim Jong Un.

Pertemuan ini akan meningkatkan status Korut di dunia internasional dan legitimasi Kim di negaranya.

Easley juga menjelaskan meski Rusia tidak bisa menggantikan China secara ekonomi, namun pertemuan ini membuktikan bahwa “Pyongyang memiliki pilihan”.

Kantor berita asal Korea Selatan, Yonhap, mengatakan bahwa gambar satelit menunjukkan adanya tanda-tanda “infrastruktur besar” di Lapangan Kim Il Sung di Pyongyang. Hal ini menunjukkan adanya persiapan untuk parade atau acara besar sedang berlangsung.

NATO khawatir Putin dukung Program Nuklir Korea Utara

Aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) cemas program pengembangan nuklir Korut bakal didukung oleh Rusia. Kekhawatiran tersebut muncul setelah Vladimir Putin mengunjungi Korea Utara untuk pertama kalinya dalam 24 tahun. Selama ini, banyak pihak dibuat ketar-ketir oleh uji coba rudal balistik yang kerap dilakukan Korut.

Melansir dari Reuters, Sekretaris Jenderal NATO, Jeans Stoltenberg, mengatakan dukungan Putin ke Korut dan sokongan China terhadap ekonomi perang Rusia mengisyaratkan ancaman keamanan di Eropa.

Ia juga menyinggung perang Rusia dan Ukraina. Menurutnya dukungan sekutu Rusia seperti Korut dan China, dapat menggagalkan aliansi Barat mengenai perang tersebut. Negara Barat terutama Amerika Serikat juga khawatir dengan perkembangan hubungan Rusia-Korea Utara.

Baca Juga: Memanas! Kapal Filipina dan China Tabrakan di LCS, AS Ikut Campur?

Karine Jean Pierre, Juru bicara Gedung Putih mengatakan kerja sama antara Rusia dan Korut yang mendalam perlu menjadi perhatian.

Kim Jong Un dapat hadiah Mobil mewah dari Putin

Dalam kunjungannya ke Korea Utara, Putin dan Kim Jong Un saling bertukar hadiah. Ajudan Putin, Yuri Ushakov, mengatakan kepada kantor berita TASS bahwa salah satu hadiah dari Putin adalah mobil mewah Aurus baru.

Aurus pertama telah dihadiahkan Putin kepada Kim pada Februari 2024 lalu. Sedangkan terkait hadiah dari Kim Jong Un, Ushakov mengatakan itu juga hadiah yang bagus. Ia tidak merinci secara lengkap hadiah yang diterima PUTIN, namun mengisyaratkan bahwa hadiah tersebut merupakan karya seni, termasuk patung.

Perjanjian baru Rusia-Korut

Dalam pertemuan tersebut, Rusia-Korut meneken perjanjian kemitraan strategis komprehensif. Ushakov menuturkan bahwa dokumen baru tersebut menggantikan Perjanjian Persahabatan dan Bantuan Timbal Balik (1961), Perjanjian Hubungan Bilateral (2000), Deklarasi Moskow dan Pyongyang (2000, 2001).

Baca Juga: Putin-Kim Jong Un Tandatangani Pakta Perjanjian Pertahanan hingga Sindir Tingkah AS

Menurutnya, dokumen baru tersebut dibutuhkan karena terjadi perubahan besar pada situasi geopolitik di kawasan maupun seluruh dunia dalam hubungan bilateral Rusia-Korut.

Pejabat Kremlin itu menegaskan bahwa dokumen baru memenuhi seluruh prinsip dasar hukum internasional, tidak bersifat konfrontatif atau ditujukan pada negara manapun, serta bertujuan untuk menjamin kestabilan yang lebih baik di kawasan Asia Timur Laut.