― Advertisement ―

HomeNewsTurbulensi Parah Singapore Airlines Sebabkan 1 Penumpang Meninggal Dunia, Berikut Dugaan Awal...

Turbulensi Parah Singapore Airlines Sebabkan 1 Penumpang Meninggal Dunia, Berikut Dugaan Awal Penyebabnya

Penerbangan pesawat Singapore Airlines rute London-Singapura mengalami turbulensi pada Selasa (21/5).

Turbulensi adalah pergerakan udara tidak teratur yang menyebabkan perubahan ketinggian atau sudut pesawat saat terbang yang tidak menentu. Biasanya, akibat turbulensi penumpang akan terasa bergelombang, berombak atau terombang-ambing.

Pesawat Boeing 777-300ER tersebut dialihkan ke Bangkok, Thailand dan mendarat di Bandara Internasional Suvarnabhumi pada pukul 15.45 waktu setempat. Pesawat ini dilaporkan terjun drastis yang memicu turbulensi hebat hingga menyebabkan 1 penumpang meninggal dunia dan beberapa penumpang lainnya mengalami luka.

“Kami bekerja sama dengan pihak berwenang setempat di Thailand untuk memberikan bantuan medis yang dibutuhkan, dan mengirimkan tim ke Bangkok untuk memberikan bantuan tambahan yang diperlukan,” demikian keterangan Singapore Airlines dalam unggahan di Facebook.

Turbulensi terjadi pada saat pesawat berada daerah Cekungan Irrawaddy, Myanmar sekitar 10 jam penerbangan.

Dilansir dari CNN Indonesia, Konsultan senior penerbangan di perusahaan riset pasar Forst dan Suvillan, Shantanu Gangakhedkar menyampaikan kepada Channel NewsAsia (CNA), turbulensi dapat terjadi disebabkan oleh sejumlah alasan seperti badai, awan, hingga aliran jet.

Berdasarkan data pelacakan penerbangan, pesawat tersebut sempat menukik dari ketinggian 37.000 kaki ke 31.000 kaki dalam waktu kurang dari lima menit.

Selain dari yang disebutkannya, ada satu jenis gangguan yang paling tidak bisa diprediksi, yaitu turbulensi udara jernih atau clear air turbulence (CAT) yang dapat terjadi tanpa bukti konkrit.

CAT sering menjadi penyebab penumpang terluka karena terjadi tanpa peringatan. Akibat dari kondisi tersebut, para petugas yang berada di pesawat tidak memiliki waktu untuk menginstruksi para penumpang kembali ke tempat duduk penumpang masing-masing dan mengencangkan sabuk pengaman.

“Jika seseorang berjalan-jalan, dia bisa saja terlempar apabila terjadi turbulensi tiba-tiba. Kondisi ini bisa mengakibatkan cedera parah. (Itu sebabnya) disarankan untuk berada di kursi dengan sabuk pengaman kencang selama berada di ketinggian jelajah, bahkan ketika tanda sabuk pengaman tidak menyala,” jelas Shantanu dikutip dari CNA.

Seperti dikutip dari detikhealth, saat bepergian dengan pesawat, turbulensi udara yang sering terjadi biasanya tidak berbahaya, tapi dalam kasus yang jarang bisa memicu kematian.

Dalam sebuah laporan dari National Transportation Safety Board, mayoritas penumpang yang terluka parah akibat turbulensi tidak mengenakan sabuk pengaman, kemungkinan karena mereka sedang menggunakan kamar kecil atau berjalan mondar-mandir di lorong.

Cedera dapat disebabkan oleh jatuhnya bagasi di atas kepala sehingga menimbulkan benturan di kepala, orang tersandung atau terlempar ke kursi atau sisi kabin, atau trolly pembawa makanan yang menabrak orang.

Federal Aviation Administration (FAA) mendefinisikan cedera serius yaitu cedera yang memerlukan rawat inap selama lebih dari 48 jam, atau mengakibatkan patah tulang, kerusakan otot atau tendon yang parah, kerusakan pada organ dalam, dan luka bakar tingkat dua atau tiga yang terjadi akibat turbulensi.