Antisipasi Krisis Pangan Dunia, NU Circle Bangun Santri Smart Farming

Ketua Umum NU CIRCLE Gatot Prio Utomo (Gus Pu) usai membahas Santri Smart Farming dengan pejabat PT. Bank Negara Indonesia (BNI). /Foto: Istimewa

Acuantoday.com, Jakarta―Ancaman krisis pangan dunia akibat pandemi corona telah digaungkan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) akan menyerang berbagai negara di dunia.

Seluruh bangsa diminta bersiap menghadapi situasi krisis pangan ini.

Tak mau ketinggalan, Masyarakat Profesional Santri yang dikenal dengan nama NU Circle kembali membuat terobosan.

Saat ini, NU Circle menjajaki kerjasama dengan beberapa perusahaan dari hulu ke hilir termasuk perusahaan pembiayaan PT. Bank Negara Indonesia (BNI) untuk mempersiapkan stok pangan di setiap desa di Indonesia.

“Ancaman krisis pangan yang dinyatakan FAO sebagai dampak pandemi sudah mulai kita rasakan. Tentu saja kita tidak boleh tinggal diam. Harus ada upaya masif untuk membangun lumbung pangan nasional di desa-desa. Kami sedang menjajaki kerjasama untuk membangun Santri Smart Farming (SSF) . Program ini akan melibatkan santri milenial sebagai garda depan pertanian nasional, sekaligus mencetak enterprenur muda di bidang pertanian,” kata Ketua Umum NU Circle Gatot Prio Utomo (Gus Pu) di Jakarta, hari ini, Kamis (15/4).

Seperti diketahui, FAO sebelumnya merilis 27 negara di dunia yang akan terancam krisis pangan.

Di Asia, Afghanistan dan Bangladesh masuk dalam daftar FAO.

Di Amerika Tengah, FAO mengidentifikasi kelaparan bakal menerjang Haiti, Venezuela, Guatemala, Honduras, El Savador, Nicaragua, Peru, Ekuador dan Kolombia.

Sedangkan di Timur Tengah, krisis pangan teridentifikasi di Lebanon, Sudan, Yaman, dan Suriah. Di Afrika, Burkina Faso, Kamerun, Liberia, Malo, Niger, Nigeria, Mozambik, Sierra Leone, Zimbabwe, Kongo dan Republik Afrika Tengah.

Menurut Gus Pu, para santri alumni pesantren bisa menjadi petani yang lebih smart. Dengan kombinasi teknologi, edukasi dan pendampingan, akses modal, terbukanya jalur distribusi dan pemasaran, para santri muda ini bisa menjadi petani-petani baru di desa-desa.

“Kita ingin menunjukkan kepada para santri muda dan kaum milenial bahwa pertanian merupakan bidang usaha yang bisa mensejahterakan. Kita semua membutuhkan makanan. Artinya setiap produksi pertanian pasti terserap oleh pasar, baik pasar dalam negeri maupun pasar global,” ujarnya.

Dengan kemajuan teknologi pertanian saat ini dan industri digital yang semakin canggih, pertanian tidak lagi dikelola secara konvensional.

“ Harus ada pendekatan baru yang lebih smart sehingga kita harapkan para santri menjadi Santri Smart Farming yang lebih unggul dan sejahtera,” ujarnya.

Dia berharap program ini mendapat dukungan semua pihak. Kaum muda di desa-desa harus memiliki kesadaran dan harapan baru untuk kembali ke pertanian.

“Masa depan negara agraris adalah pertanian. Kita semua harus bersinergi untuk menjadikan pertanian sebagai ladang kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (ahm)

Comments

comments