Ojek Pangkalan, Kelompok Marjinal yang Rentan Dihantam PSBB Jilid II

Tukang ojek pangkalan yang saban hari mangkal di depan gerbang Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pendapatan mereka terancam menyusut ketika PSBB jilid II berlangsung./Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibowo)

Acuantoday.com, Jakarta – Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara ketat di DKI Jakarta yang mulai jalan 14 September nanti diprediksi memukul telak sektor transportasi. 

Mereka yang menggantungkan hidup di sektor ini pun berada dalam posisi rentan. 

Aturan PSBB total di periode awal (April hingga awal Juni) mengharuskan setiap orang yang tak berkepentingan mendesak atau yang tak bekerja di 11 sektor usaha esensial untuk berdiam di rumah saja. 

Aturan yang sama bakal berlaku di PSBB total jilid II. Akibatnya, penggunaan moda transportasi akan jauh berkurang

Mereka yang menyambung hidup sebagai tukang ojek, terlebih ojek pangkalan alias opang, bakal terdampak dari kebijakan PSBB total ini. 

Zubair, misalnya, pria 35 tahun ini sengaja merantau ke ibu kota dari Madura demi menjajal peruntungan hidup lebih laik sebagai tukang ojek pangkalan.

Namun, pandemi COVID-19 jadi fase hidup yang berat baginya di tanah rantau. Ia mesti bertahan hidup di tengah kerasnya ibu kota dengan bekal Rp20 ribu per hari sejak wabah pandemi menerpa. 

Beban itu ia rasakan, baik sejak PSBB total periode awal hingga saat PSBB mulai melonggar per awal Juni lalu (PSBB transisi). 

Menurut Zubair, sebelum virus corona mewabah, dirinya bisa mendapat penghasilan Rp200 ribu. Sekarang, dapat dua kali angkut penumpang aja, diakuinya sangat susah.

“Ini Senin PSBB ketat lagi kan? Minta ampun tambah pengaruh lagi,” kata Zubair kepada wartawan Acuantoday.com, Sabtu (12/9). 

Kala PSBB mulai bergeser ke fase transisi, ia menyadari “ladang” cuan kian sedikit, mengingat mesti berbagi ruang dengan ojek daring atau ojol, yang saban hari berbarengan menunggu penumpang. 

Pelik hidup yang sama dirasa oleh Ian (42). Warga asli Jakarta ini juga hanya beroleh dua penumpang dalam sehari sejak wabah pandemi melanda. 

Penghasilan yang tak menutupi beban hidup sehari-hari, membuatnya terpaksa meminjam uang kepada sanak keluarga.

“Buat menghidupi keluarga ya pusing lah apa lagi saya masih ngontrak. Sekarang biaya anak sekolah ya berat juga di kuota internet. Ya harus diusahain kalau gak gitu anak ga bisa ikut pembelajaran kan,” keluhnya. 

Lokasi mangkal mereka tepat di depan Stasiun Pasar Minggu Jakarta Selatan. Saban hari, penghasilannya bergantung pada seberapa banyaknya penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) yang turun dan menyewa jasanya untuk menuju ke tempat beraktivitas. 

Ketika PSBB total mulai jalan pekan depan, secara otomatis pengguna KRL menurun dan di saat bersamaan cuan yang didapat mereka pun berkurang. 

Sebagai catatan, Badan Pengelola Transportasi di Jabodetabek mencatat penurunan penggunaan KRL di penerapan PSBB ketat pada April lalu. 

Bila KRL dari Kota Bogor pada keberangkatan pukul 6 biasanya mengangkut 10 ribu penumpang, tapi pada saat PSBB jumlahnya turun drastis menjadi 1.700-an ribu penumpang. 

Secara total, jumlah pengguna KRL pun memang jauh lebih berkurang saat PSBB ketat. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengeklaim penumpang KRL menurun yang semulanya pada 13 April berjumlah 75.661 orang, kemudian menurun sebanyak 10.000 pengguna menjadi 62.282 orang. (rwo)

Comments

comments