Ombudsman Minta Pemerintah Konsisten Bikin Aturan Transportasi di Tengah Pandemi

Ilustrasi-Pesawat Citilink tengah parkir menunggu penumpang. /Foto: Acuantoday.com (Ahmadi Supriyanto)

Acuantoday.com, Jakarta―Ombudsman RI meminta pemerintah untuk konsisten dalam mengeluarkan kebijakan di tengah pandemi, terutama di sektor transportasi agar tidak membingungkan masyarakat.

“Kebijakan perlu konsistensi, berlaku panjang, tidak hanya pada saat liburan. Kadang ekonomi kadang kesehatan, akhirnya keduanya gak dapat,” ujar Anggota Ombudsman RI Alvin Lie dalam webinar Masyarakat Transportasi Indonesia, di Jakarta. 

Saat ini, menurut dia, penumpang dan operator transportasi bingung dengan kebijakan baru pada libur Natal dan Tahun Baru, yakni kewajiban rapid test antigen sebelum menggunakan moda transportasi umum.

Alvin melihat, pemerintah masih memberi insentif untuk perjalanan pesawat udara sampai 31 Desember, tujuannya mempromosikan lagi wisata, bahkan kementerian-kementerian termasuk Kementerian Perhubungan melakukan rapat-rapat di tempat tujuan wisata.

“Ketika orang mulai berwisata, muncul kebijakan harus menggunakan rapid test antigen. Kebijakan stop and go ini nggak jelas,” katanya.

Kebijakan rapid test antigen itu tertuang dalam Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 No 3 Tahun 2020 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Orang Selama Libur Hari Raya Natal dan Menyambut Tahun Baru 2021 dalam Masa Pandemi Covid-19, dan Surat Edaran Kemenhub No 23 Th 2020 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang dengan Transportasi Perkeretaapian Selama Masa Natal Tahun 2020 dan Tahun Baru 2021 dalam Masa Pandemi Covid-19.

“Keluar SE 3 Satgas, dan diikuti SE dirjen perhubungan udara, yang baru keluar tadi pagi. Dan disusul pesan WA, bahwa surat edaran tersebut bukan versi yang resmi, saat ini sedang ditinjau kembali. Hal-hal seperti inilah yang sebetulnya membuat masyarakat, termasuk yang melaksanakan ini juga bingung,” ucapnya.

Menurut Alvin, kebijakan yang membingungkan itu juga membuat para pelaku bisnis sulit menjalankan strateginya.

“Pelaku bisnis itu tidak bisa seperti orang tutup-buka warung, mereka juga harus mempersiapkan modalnya, SDM-nya,” ucapnya.

Dalam kesempatan sama, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio mengatakan kebijakan yang tidak selaras cukup terasa di momentum menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kali ini.

“Misalnya maraknya aturan terkait pembatasan kebijakan transportasi, baik yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam bentuk Surat Edaran (SE),” katanya. (mad)

Comments

comments