PBB Kecam Serangan terhadap Media Afghanistan

Aparat keamanan Afghan membawa jasad korban ledakan di Kabul, Afghanistan, Sabtu (6/2/2021). REUTERS/Omar Sobhani/WSJ/djo (REUTERS/OMAR SOBHANI)

Acuantoday.com— Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam serangan terhadap wartawan dan aktivis hak asasi manusia Afghanistan, pada saat dialog sangat dibutuhkan di tengah pembicaraan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung dua dekade.

Menurut Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Afghanistan Deborah Lyons, warga Afghanistan membutuhkan dan pantas memiliki ruang sipil yang terus berkembang—sebuah masyarakat di mana orang-orang dapat berpikir, menulis, dan menyuarakan pandangan mereka secara terbuka, tanpa rasa takut.

“Suara pembela hak asasi manusia dan media sangat penting bagi masyarakat yang terbuka dan layak,” kata Lyons, Senin.

Pada rentang waktu 1 Januari 2018 hingga 31 Januari 2021, sebanyak 65 pembela hak asasi manusia dan profesional media tewas, berdasarkan laporan PBB.

Lima aktivis hak asasi manusia dan enam jurnalis tewas dalam empat bulan setelah perundingan damai dimulai di Doha pada September tahun lalu.

Afghanistan sedang mengalami gelombang baru “sasaran individu yang disengaja dan direncanakan dengan pelakunya tetap anonim”, sehingga mendorong para profesional untuk berhenti dari pekerjaan mereka dan meninggalkan rumah mereka, serta jurnalis untuk melakukan sensor diri.

Banyak dari serangan itu melibatkan bahan peledak rakitan kecil yang disebut “bom lengket”, yang biasanya dipasang di bagian bawah kendaraan.

Hanya sedikit yang pernah diklaim oleh pihak yang bertikai, meskipun pemerintah mengatakan Taliban bertanggung jawab. Di sisi lain, kelompok itu mengatakan hanya menargetkan pejabat pemerintah.

Taliban, yang memerintah Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001, berusaha untuk menggulingkan pemerintah yang didukung Barat di Kabul dan memberlakukan kembali pemerintahan Islam.

Militan ISIS juga beroperasi di Afghanistan, dan pejabat pemerintah mengatakan mereka memiliki hubungan dengan Taliban—tuduhan lain yang dibantah oleh Taliban.

Badan mata-mata Afghanistan mengatakan pihaknya membongkar dua sel dalam sepekan terakhir di Kabul yang bekerja sama antara ISIS dan jaringan Haqqani yang terkait dengan Taliban. Dikatakan mereka bertanggung jawab atas pembunuhan pejabat dan aktivis serta serangan roket di ibu kota.

Pemerintah Afghanistan dan militan Taliban memulai pembicaraan damai di Doha pada September 2020, tetapi sebagian besar perundingan terhenti.

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) sedang meninjau kesepakatan yang memungkinkan tentara Barat meninggalkan Afghanistan pada Mei mendatang.***cit/rtr/ant

Comments

comments