Pemerintah Diminta Bangun Dialog dengan Buruh

Massa aksi demonstrasi terdiri dari buruh dan mahasiswa menolak pengesahan Omnibus Bus Law UU Cipta Kerja oleh DPR dan pemerintah. /Foto : Rahmat (Acuantoday.com)

Acuantoday.com, Jakarta- Agar kehadiran UU Cipta Kerja tidak membekas, pemerintah diminta membangun dialog dengan kelompok buruh. Pemerintah harus meyakinkan bahwa kehadiran Omnibus Law UU Cipta Kerja baik untuk masa depan buruh.

“Saya pikir titik penyelesaiannya ada pada dialog antara Pemerintah dan buruh. Bagaimana Pemerintah menyampaikan dan meyakinkan bahwa UU ini membawa kebaikan bagi ekonomi bangsa dan masa depan buruh lebih baik,” kata Pakar Komunikasi Politik Emrus Sihombing kepada Acuantoday.com, Jumat (9/10).

Dia meyakini, dengan membangun dialog intensif Pemerintah dapat meyakinkan langsung ke pokok masalah yang menjadi penolakan buruh, seperti kontrak kerja, masa cuti kerja, upah hingga perizinan membuka usaha.

Ia mencontoh, hal yang paling menguntungkan buruh dalam UU ini yaitu yang awalnya berstatus karyawan, buruh bisa menjadi pemilik usaha sebagaimana ada pada pasal soal perizinan, yang sangat dipermudah oleh Pemerintah lewat UU ini. “Jadi komunikasi itu harus diutamakan dalan menyelesaikan masalah,” tegasnya.

Emrus mengatakan semua pihak berkewajiban memberikan saran atas perbedaan sikap dari kelompok sehingga sinyelemen bahwa penolakan buruh karena terjebak isu hoaks bisa dihindari.

Ia berharap beberapa isi pasal UU Cipta Kerja, agar segera dibuka kanal komunikasi langsung atau tatap muka dengan buruh.

Pengajar dari Universitas Pelita Harapan (UPH) ini menyarankan agar Kementerian BUMN hadir ditengah-tengah buruh untuk meredam penyebaran informasi hoaks terkait lapangan kerja akan digerus oleh tenaga kerja asing lewat UU Omnibus Law ini.

“Kementerian BUMN bisa gak menampung pekerja yang kehilangan kerja di perusahan swasta, toh banyak perusahan yang ada di bawah BUMN. Disinilah pemanfaatan pekerja buruh untuk kemajuan negara dan memberikan rasa tenang kepada buruh,” sarannya. (rht)

Comments

comments