Pemerintah Pastikan Hanya Sediakan Vaksin Aman Sesuai Rekomendasi WHO

Jubir Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan, Dr. Siti Nadia Tarmizi, M,Epi./Foto: Tangkapan layar.

Acuantoday.com, Jakarta―Pemerintah memastikan hanya akan menggunakan vaksin yang aman dan sudah lolos uji klinis sesuai rekomendasi WHO.  

Penegasan ini disampaikan Jubir Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan, Dr. Siti Nadia Tarmizi, M,Epi dalam serial webinar Forum Kesehatan Nusantara yang diadakan Masyarakat Profesional Santri (NU Circle)  bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter NU, NUCareer,  dan Bank Syariah Mandiri. 

Seri kelima webinar  Masyarakat Profesional Santri (NU Circle)  yang dihelat Jumat (18/12) hari ini menghadirkan Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan Dr. Siti Nadia Tarmizi, M,Epid dan Pembina Perhimpunan Dokter NU dr. Syahrizal Syarif, MPH, PhD. Dipandu moderator Ketua Bidang Kesehatan NUC  Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.Og, MP, webinar mengambil tema “Vaksin Covid-19 dan Prioritas Vaksinasinya. “

Pemerintah, kata Siti Nadia,  memilih vaksin Covid-19 secara hati-hati dan melalui beberapa kriteria atau pertimbangan. 

Ia menyebut, ada tujuh hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan vaksin. 

Pertamakeamanan (tidak ada efek samping berat). Kedua, efikasi (ideal 70%, minimal 50%). Ketigalama perlindungan panjang (setidaknya 1 tahun)

Keempat, stabilitas penyimpanan (suhu2-8⁰C). Kelima, kemasan: multi dose (optimalisasi kapasitas rantai dingin vaksin)

Keenam, platform yang sama untuk memudahkan evaluasi. Ketujuhpersetujuan penggunaan dari BPOM – mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA). 

Menurutnya, saat ini berbagai persiapan sudah dilakukan.  Dari sisi logistik,  cold chain yang terkait dengan prosedur untuk menjaga suhu vaksin tetap terjaga kualitas dan efektivitasnya sudah mencapai 97% secara nasional. 

Kemudian, tenaga medis, dokter spesialis,  perawat dan bidan juga telah disiapkan dan berkompetensi.  

“Vaksinator di puskesmas dan rumah sakit lebih dari 29.635 orang,” tandasnya. 

Dikatakannya, kelompok sasaran sesuai tahapan adalah petugas kesehatan, TNI,  polri,  petugas hukum,  pelayanan publik,tokoh masyarakat, tokoh agama,tokoh ekonomi,  guru dan tenaga pendidik dari PAUD,  SD,  SMP, SMA/ SMK,  PT,  aparatur pemerintah pusat,  daerah dan legislatif,  serta kelompok masyarakat rentan dan masyarakat lainnya. 

Sementara itu,  Syahrizal menegaskan, masih banyak isu terkait vaksin.  

Pertama perihal pengadaan vaksin yang cukup menjadi perbincangan nasional.  Kemudian masalah akses terhadap vaksin dengan berbagai skema harga dan nilai penjualan sebelum akhirnya diputuskan bahwa vaksin digratiskan. 

“Kaum dhuafa dan miskin harus diprioritaskan. Mereka yang sulit mendapatkan akses terhadap vaksin,” tandasnya. 

Kedua, prioritas pemberian vaksin yaitu masyarakat yang berusia 18-59 tahun dan orang sehat.  Ketiga, masih soal prioritas dan tujuan vaksinasinya.  Keempat,  masih ada isu terkait penerimaan masyarakat terhadap upaya vaksinasi. Kelima pascaprogram vaksinasi,  apa yang mesti dilakukan dan  bagaimana mitigasinya.

Menurutnya,  kondisi pandemi di Indonesia masih fluktuatif.  Beberapa daerah masih tinggi angka terpapar Covid-19. 

DKI jakarta,  Jawa Tengah,  Jawa Timur,  Jawa Barat serta Papua, Papua Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat masih sangat tinggi.  Jika diperbandingkan, risiko tertular Covid-19 di DKI Jakarta itu delapan kali Jatim, 8 kali  Jateng dan 10 kali Jabar. 

Persoalan vaksin dan vaksinasi, lanjut dia, dapat disimpulkan selain kondisi fluktuatif,  pemeriksaan spesimen masih rendah dan kapasitas pemeriksaan tidak merata. 

“Vaksin memang merupakan harapan namun masih memiliki berbagai tantangan.  Namun yang lebih penting adalah meski ada vaksin,  jangan sampai perilaku 3M dan 3T (testing,  tracking dan treatment)  disepelekan dan dikurangi, “ tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Prof Budi Wiweko menegaskan, NU Circle akan terus melaksanakan Webinar Kesehatan dalam bingkai kegiatan Forum Kesehatan Nusantara hingga tahun 2021.  Webinar ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan bisa mengedukasi masyarakat luas. 

“Kita ikut berkontribusi dalam mengatasi pandemi ini dengan berbagai terobosan kegiatan.  Mudah-mudahan FKN ini mendapatkan dukungan baik oleh pemerintah maupun swasta, “ ujarnya.  (ahm)

Comments

comments