Penguatan Karakter Sejak Dini Cegah Anak Bertindak Kriminal

Sub Bagian Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar, Psikolog Lyly Puspa Palupi S, di Denpasar. ANTARA/Ayu Khania Pranisitha/am

Acuantoday.com— Psikolog dari RSUP Sanglah Denpasar Lyly Puspa Palupi mengatakan penguatan karakter yang dilakukan sejak dini dapat mencegah anak bertindak kriminal.

“Kalau anak-anak terbiasa melihat tindakan kekerasan, perilaku membangkang dan lainnya, maka itu akan ditiru karena mereka menilai perilaku tersebut boleh dan normal. Untuk itu penguatan karakter bagi anak harus dilakukan sejak dini, ” kata Psikolog Lyly saat dihubungi di Denpasar, Minggu. Demikian dikutip Antara.
Staf Sub Bagian Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar itu mengatakan metode yang digunakan dalam memberikan pendidikan karakter itu perlu disesuaikan dengan usia anak didik. Bagi remaja siswa SMA, atau siswa SMP hingga sekolah dasar juga perlu pendekatan khusus untuk menanamkan dan membentuk karakter yang baik.
​​​​​
“Kemudian, yang penting diingat bahwa pembentukan karakter bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah. Melainkan seluruh aspek lingkungan, di mana perlu memberikan contoh-contoh perilaku yang positif buat anak-anak kita, agar mereka bisa menirunya,” kata Lyly.

Menurut dia, dalam pendidikan karakter di rumah maupun di sekolah, juga memuat tentang perilaku-perilaku baik yang perlu ditunjukkan, dan perilaku-perilaku yang buruk yang perlu dihindari.
Selain itu, dalam menerapkan pendidikan karakter itu juga wajib mencantumkan pengajaran kepada anak agar terbiasa mematuhi aturan, bertanggung jawab pada perbuatannya, sehingga keterlibatan remaja dalam tindakan kriminal dapat diminimalkan.
“Jika dilihat dari beban materi pelajaran atau kurikulum para siswa sekarang lebih didominasi penguatan kemampuan akademik, kemampuan berpikir atau kognitif, sehingga pendidikan dengan muatan penguatan karakter terlihat kurang menjadi prioritas,” kata Lyly.
Apalagi, situasi belajar daring saat masa pandemi Covid 19 menerapkan metode belajar yang satu arah, seperti guru mengajarkan, siswa mendengar dan mengerjakan tugas.
“Jadi kurang memberikan kesempatan untuk berinteraksi, berdiskusi tentang nilai-nilai moral dan lainnya,” ucapnya.***cit

Comments

comments