Penyuap Dua Jenderal Polisi di Kasus Djoko Tjandra Dituntut 1,5 Tahun Penjara

Tersangka kasus pembuatan dokumen palsu Djoko Tjandra.. Roham (Acuantodaycom)

Acuantoday.com, Jakarta―Tommy Sumardi, terdakwa penyuap dua jenderal polisi untuk surat jalan palsu dan penghapusan status buron Djoko Tjandra dituntut 1 tahun 6 bulan penjara. 

“Menghukum Terdakwa Tommy Sumardi dengan pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan dengan perintah agar Terdakwa tetap ditahan di rumah tahanan,” kata Jaksa ketika membacakan amar tuntutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (15/12), sebagaimana fail yang dibagikan Humas PN Jakarta Pusat Bambang Nurcahyono.

Tommy juga dituntut untuk membayar denda sebesar Rp100 juta subsider 6 bulan kurungan. Dasar pertimbangan tuntutan hukum, kata Jaksa, karena perbuatan Tommy tidak mendukung program pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi, kolusi dan, nepotisme (KKN).

Sementara, hal yang meringankan hukuman didasari pengakuan Tommy soal perbuatan korupsinya. 

Di samping itu, dia bukanlah pelaku utama dalam perkara ini. Sehingga, jaksa meminta majelis hakim mengabulkan permohonan justice collaborator yang sebelumnya diajukan Tommy.

“Terdakwa sebagai saksi pelaku yang bekerja sama atau Justice Collaborator telah memberikan keterangan atau bukti-bukti yang signifikan dalam mengungkap tindak pidana dan pelaku lainnya,” tutur Jaksa.

Tommy didakwa lantaran menjadi perantara suap bagi Djoko Tjandra. Dia disuruh untuk menyuap sejumlah uang ke mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadivhubinter) Polri Irjen Napoleon Bonaparte dan mantan Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Bareskrim Polri Brigjen Prasetijo Utomo. 

Perintah Tommy kedua jenderal itu menerbitkan surat jalan palsu dan penghapusan red notice Djoko Tjandra, agar yang bersangkutan bisa bebas masuk ke Indonesia, tanpa diproses hukum atas kasus korupsi Bank Bali. 

Djoko Tjandra ingin masuk lagi ke Indonesia untuk mengurusi permohonan peninjauan kembali (PK) atas kasus yang membelitnya.  

Alhasil, Napoleon menerima suap 200 ribu dolar Singapura dan 270 ribu dolar AS, sementara Prasetijo disogok 150 ribu dolar AS. Total uang suap keduanya jika dalam nominal rupiah sekitar kurang lebih Rp8 miliar.

Tommy dinilai terbukti melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (rwo)

Comments

comments