Penyuap Eks Sekretaris MA Pakai Mobil Pelat Pejabat Selama Buron

Pimpinan Komisi Pemberantasan Kopruopsi (KPK) saat menghadirkan Hiendra Soenjoto, buron kasus suap eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi. (Foto : Antara)

Acuantoday.com, Jakarta- Penangkapan Hiendra Soenjoto, buron kasus suap eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi masih menyisakan persoalan lain.

Pasalnya, selama buron, Hiendra diketahui bepergian dengan mobil berpelat dinas pejabat di bawah eselon II alias plat RFO.

Koordinator Masyarkat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman mengungkapkan temuan itu berdasar laporan dari seseorang yang tak mau disebutkan identitasnya, sejak sebulan lalu. Informasi tersebut menyebutkan bahwa koneksi lingkar dalam Hiendra mempunyai relasi dengan pejabat dan penegak hukum di Indonesia.

“Tin Zuraida (istri Nurhadi, – red) pernah menjadi staf ahli di KemenpanRB dan juga kemudian ada mantan pejabat tinggi sekelas menteri di zaman presiden sebelumnya itu memberi informasi bahwa HS itu dekat dengan seorang penegak hukum,” ujar Boyamin dalam siaran pers, Sabtu (31/10).

Ia juga menyebutkan, pelat mobil dinas itu ilegal beredar, mengingat masa berlakunya sudah jatuh tempo. Kendati begitu, Hiendra tetap leluasa bepergian, karena merasa aman berbekal identitas mobil pejabat negara.

Tapi tetap masih dipakai di jalanan, sehingga niatnya mengklamufase tidak dicurigai. Karena kalau mobil itu kan dianggap mobil dinas kan, tidak dipakai sipil sehingga itulah yang dipakai selama dalam pelarian,” tutur Boyamin.

KPK pun diminta untuk menyelidiki temuan baru ini dengan membuka kemungkinan terduga pelaku lain yang terlibat, sebagaimana Pasal 21 Undang-undang Tindak Pidana Korupsi, terkait merintangi penyidikan terhadap tersangka.

“Dilakukan penelusuran bagaimana dia (Hiendra) memperoleh plat nomor itu dan pihak mana saja yang membantu atau yang memperoleh plat nomor itu hingga mudahnya HS bersembunyi,” ungkapnya.

Sebelumya diberitakan, Hiendra ditangkap di sebuah apartement di kawasan BSD, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (29/10) lalu. Saat ditangkap, ia kedapatan bersama istri dan seorang teman wanitanya.

Hiendra ditetapkan sebagai tersangka bersama Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono pada 16 Desember 2019. Hiendra diduga memberi suap ke Nurhadi terkait sejumlah perkara perdata di MA dengan total korupsi mencapai Rp83 miliar.

Ketiganya ditetapkan sebagai buron oleh KPK sejak 13 Februari lalu, setelah sebelumnya selalu mangkir dari pemeriksaan dan menghilang begitu saja. Sebelum berhasil menangkap Hiendra, KPK lebih dulu meringkus Nurhadi dan Rezky di Jakarta Selatan pada 2 Juni lalu.(rwo)

Comments

comments