Perayaan Keagamaan Jangan Jadi Klaster COVID

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD saat memberi arahan dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Libur Panjang Cuti Bersama Maulid Nabi Muhammad SAW di Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP) Kantor Kemendagri Jakarta, Kamis (22/10)./Foto : Puspen Kemdagri

Acuantoday.com, Jakarta- Libur panjang dalam rangka memperingati Peringatan Keagamaan Maulid Nabi Muhammad SAW dinilai akan banyak diisi pertemuan dengan mengumpulkan orang banyak dan memicu potensi pusat penularan baru COVID-19.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD mengatakan peringatan Maulid Nabi merupakan bentuk negara atau masyarakat menghargai acara keagamaan.
Namun karena saat ini masa pandemi, jangan sampai perayaan hari keagamaan jadi kluster penularan COVID-19. Karenanya penerapan protokol kesehatan harus diperhatikan betul.

“Maulidan, itu akan banyak pengajian-pengajian, ada festival-festival biasanya begitu kalau hari Maulid itu,” kata Mahfud MD saat memberi arahan dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Libur Panjang Cuti Bersama Maulid Nabi Muhammad SAW di Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP) Kantor Kemendagri Jakarta, Kamis (22/10).

Oleh karena itu, ia menekankan perlunya banyak yang mengamankan jalan kegiatan maulidan agar tetap menjalakan disiplin protokol kesehatan.

“Semuanya itu akan sangat ditentukan bagaimana daerah, pimpinan daerah, Forkompinda dan seluruh jajarannya itu berkoordinasi untuk melakukan antisipasi atas berbagai kemungkinan (penularan virus),” jelas Mahfud.

Maulidan, itu akan banyak pengajian-pengajian, ada festival-festival biasanya begitu kalau hari Maulid itu,” ucapnya.

Semua potensi ini, menurut Mahfud, harus diantisipasi jangan sampai menimbulkan atau menjadi pusat-pusat penularan baru. Jadi klaster-klaster baru di berbagai tempat. Langkah ini untuk menghindari penegakan protokol kesehatan yang sudah dilakukan dan mulai berhasil, bisa menurun lagi.

“Kemudian persentase penularan yang juga sudah bagus, tingkat kematian yang juga sudah bagus, karena sedikit, di tingkat kematian itu 3 koma sekian persen, masih lumayan meskipun tidak sama dengan rata-rata dunia, bisa menurun lagi. Nah itu semua harus diantisipasi,” jelasnya.(rht)

Comments

comments