PermintaanTinggi, Petani Ditantang Tingkatkan Produktivitas Kopi Specialty

Beberapa penggiat perkopian dan produsen kopi Jawa Barat menyaksikan “pemberangkatan” ekspor kopi specialty ke Jerman.Foto:ist.

Acuantoday.com, Bandung – Para petani kopi Indonesia harus meningkatkan produtivitasnya untuk mersespon tingginya permintaan kopi specialty  di pasar internasional. Selain itu diperlukan kolaborasi  yang solid untuk memperkuat posisi tawar para petani atau produsen kopi.

“Kami sangat senang jika kita terus memperkuat posisi tawar dengan cara kolaborasi untuk merespon pasar kopi specialty,” kata penggiat  perkopian Jawa Barat, Setra Yuhana, Rabu (3/3).

Kopi specialty adalah kopi yang memiliki cita rasa dan aroma special, istimewa. Merujuk ke Specialty Coffee Association of America (SCAA) kopi specialty harus  memiliki “nilai” minimal 80 dari skor tertinggi 100. Biji hijau (green bean) kopi specialty juga tidak boleh  cacat.

Setra menuturkan, permintaan kopi specialty dengan nilai cuping di atas 85, di pasar internasioanal cukup tinggi.  “Persoalannya tinggal standarisasi dan konsistensi kita dalam memproduksinya.  Kita mendapat permintaan cukup banyak dari berbagai negara,” ujarnya.

Sebelumnya salah satu produsen kopi di Jawa Barat, Lucy Tedjasukmana, menyayangkan Indonesia tak bisa memenuhi permintaan kopi specialty dari Jerman. Pemicunya antara lain mayoritas petani kopi Indonesia mengunakan pupuk kimia. “Padahal permitaanya kopi dengan standar tinggi, misalnya  tak tercemari bahan kimia,” ujar Lucy yang juga pemilik PT Gravfarm Indonesia itu.

Lucy mengaku dirinya sangat konsern mengedukasi petani baik dalam menanam maupun mengelola kopi pasca panen, agar hasilnya memenuhi  standar kopi specialty.

 Untuk memproduksi kopi specialty, menurut Lucy, dibutuhkan kolaborasi dari hulu di level perkebunan hingga sektor swasta dan pemerintah.

“Pasar kopi specialty terbuka lebar, tinggal bagaimana kita berkolaborasi untuk meresponnya,  dengan memproduksi  kopi berkualitas,” katanya. (Eni Saeni)

Comments

comments