Personal Branding, Perlukah Kita?

Agnez Mo--salah satu artis Indonesia yang memiliki personal branding yang kuat--foto instagram agnezmo

Acuantoday.comPersonal branding, apa itu? Kita sering mendengar istilah itu Ketika dikaitkan dengan sosok orang terkenal seperti selebriti, tokoh-tokoh terkenal, dll. Namun kata Tika Bisono, psikolog, konsultan juga dosen, sesungguhnya personal branding itu tidak melulu tentang public figure tapi kita semua pun memerlukannya. Dengan menciptakan ‘brand’ untuk diri sendiri membuka kesempatan datangnya kebaikan-kebaikan untuk diri kita.

“Apalagi publik figur, ‘brand’ sangat dibutuhkan agar figurnya lebih mengakar dengan berbasis kompetensi, keahlian dan kemampuan,” ungkap Tika Bisono, penyanyi populer era 80-an.

Menurut Tika, membangun personal branding sebaiknya disesuaikan dengan jati diri, personality-nya dan kompetensinya agar personal branding itu bisa benar-benar dikembangkan dan pada akhirnya akan mengkristal. Untuk membangun citra diri, orang harus mengeksplore dirinya, mengetahui keunggulan dan kekhasannya.

“Jadi yang terpenting adalah manusianya, khususnya publik figur harus menyadari personal brandingnya,” ucap Putri Remaja Indonesia 1978 ini.

Sebenarnya, lanjut Tika, personal branding itu bisa juga diartikan secara luas, dalam pengertian yang ingin ditampilkan seseorang tidak melulu suatu yang positif berdasarkan pemahaman secara umum.  Karena kadang ada juga publik figur yang  justru mem-brand dirinya sebagai tokoh yang kontroversial.

Tika Bisono–foto kapanlagi.com

“Salah satu contohnya, mungkin adalah Donald Trump. Dia digambarkan sebagai sosok kontroversial. Atau mungkin sosok kontroversi lain yang ada di Indonesia. Tapi tampil sebagai sosok kontroversi tentunya ada konsekuensi dan ‘ongkosnya’. Dan itu mereka tahu. Tapi apapun namanya, baik itu brand  jelek atau buruk, ya, namanya tetap saja personal branding,” papar dosen di sejumlah perguruan tinggi ini.

Popularitas memiliki hubungan erat dengan personal branding. Karena untuk ‘memaintain’ popularitas diperlukan personal branding. “Karena itu aku suka menyayangkan ya ada orang yang telah mencapai popularitas tertentu tapi tidak ‘memaintain’-nya dengan baik, tidak menjaga popularitasnya. Karena sesungguhnya di balik popularitas ada respek, honor, keseganan, dll. Jadi sebenarnya di balik personal branding itu ada banyak sekali elemennya,” kata pelantun tembang hits ‘Melati Suci’ dan ‘Ketika Senyummu Hadir’, ini.

“Kalau tidak menghargai diri sendiri, jangan harap orang lain menghargai kita, kan gitu ya,” kata Tika yang mengaku kerap mendapat pertanyaan dari kalangan muda tentang bagaimana me-maintain popularitas, membangun personal branding.

Dan pada akhirnya, kata Tika lagi, untuk memaintain popularitas itu memang diperlukan back up karakter yang kuat agar popularitas tetap baik dan panjang. “Jangan populer tapi untuk hal yang buruk, itu tidak akan bertahan lama,” ucapnya.

Sebagaimana banyak diungkapkan, ada banyak orang berbakat di dunia ini. Akan tetapi manakala mereka tidak mampu membangun personal branding yang kuat, ia akan menjadi biasa-biasa saja, tidak menjadi hebat sebagaimana seharusnya berdasarkan bakatnya. Dan personal branding itu bukan lah barang mati, dia akan berkembang sesuai dengan tahapan itu yang dijalani.***dian

 

Comments

comments